LENSAKINI – Ketika kebanyakan penguasa memilih hidup dalam kemewahan, Ali bin Abi Thalib justru tampil berbeda. Setelah diangkat menjadi khalifah, ia memegang kekuasaan yang luas dari Timur hingga Barat, namun tetap memilih jalan hidup yang sederhana dan merakyat.
Saat tiba di Kufa, banyak orang menyarankan agar beliau tinggal di istana gubernur yang megah, Qasr al-Imarah. Namun, Ali menolak dengan tegas dan berkata bahwa istana semacam itu tidak memiliki masa depan.
Ali bin Abi Thalib lebih memilih rumah sederhana di tengah masyarakat, agar bisa merasakan denyut kehidupan rakyatnya.
Setiap hari, Ali berjalan di pasar-pasar Kufa tanpa pengawalan. Langkahnya ringan, pandangannya tenang, dan senyumnya mudah ditemukan di antara pedagang.
Kadang ia membantu orang yang tersesat, kadang membawakan barang milik mereka yang lemah. Ketika seseorang baru sadar bahwa yang menolongnya adalah sang khalifah dan berusaha mengambil alih beban itu, Ali hanya tersenyum sambil berkata, “Kepala rumah tangga harus membawa perbekalannya sendiri.”
Penampilannya kerap membuat orang tak mengenali siapa dirinya. Pakaian yang dikenakan tampak kasar dan sederhana, bahkan sering kali penuh tambalan.
Ketika ditanya mengapa berpakaian seperti itu, beliau menjawab dengan tenang bahwa pakaian sederhana menjaga diri dari kesombongan dan menumbuhkan kekhusyukan dalam salat.
Suatu hari, Ali membeli pakaian di pasar bersama pelayannya. Ia membiarkan pelayan itu memilih baju yang lebih bagus dan mengambil sisanya untuk dirinya.







