Permaisuri dan Mata Air Ajaibnya yang Menyejukkan Padang Pasir

  • Bagikan
Zubaidah binti Ja‘far

LENSAKINI – Di balik gemerlap istana Baghdad, di masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid, hidup seorang permaisuri bernama Zubaidah binti Ja‘far.

Kehidupannya penuh kemewaha mulai emas, perabot mewah, dan segala fasilitas yang bisa dibayangkan. Namun, Zubaidah bukan sekedar simbol kekayaan tapi menjadikan harta dan kekuasaannya sebagai sarana untuk menolong sesama.

Salah satu kisah paling terkenal dari permaisuri ini terkait Darb Zubaidah, atau Jalan Zubaidah, sebuah proyek monumental yang menghadirkan air bersih ke jalur haji dari Irak ke Mekkah.

Inspirasi itu muncul ketika Zubaidah mendengar keluhan jemaah yang kehausan di padang pasir. Mereka datang dari jauh, menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Suci, tapi sering kehabisan air di tengah teriknya gurun.

Zubaidah pun memerintahkan para insinyur istana untuk menyusuri seluruh jalur haji, mencatat mata air, mengukur tanah, dan merancang bendungan serta saluran air.

Tujuannya jelas yakni tidak ada jemaah yang harus kehausan dalam perjalanan suci mereka. Salah satu titik paling terkenal dari proyek ini adalah Mata Air Zubaidah di Arafah, yang hingga kini menjadi sumber air bagi ribuan jemaah setiap tahunnya.

Proyek ini penuh tantangan mulai tanah berbatu, cuaca panas ekstrem, dan rintangan teknis membuat para insinyur hampir menyerah. Namun, Zubaidah tidak mundur dan menegaskan

“Jika setiap ayunan beliung harus kubayar dengan satu dinar emas, aku tetap akan membayarnya. Tapi air itu harus mengalir.”

  • Bagikan