Menyambut Ramadan, Tradisi Punggahan Hidup di Tengah Masyarakat Tabagsel

  • Bagikan
Tradisi Punggahan di Tabagsel

PADANGSIDIMPUAN (LENSAKINI) – Menjelang bulan suci Ramadan, suasana di wilayah Tanah Tapanuli bagian Selatan (Tabagsel) terasa berbeda. Aroma masakan khas, ziarah makam, dan keramaian warga menandai hadirnya tradisi Punggahan yaitu ritual yang menjadi jembatan spiritual sekaligus sosial bagi masyarakat.

Punggahan, yang secara etimologi berasal dari kata Jawa “Munggah” atau naik, menandakan persiapan umat Islam untuk memasuki bulan Ramadan dengan peningkatan spiritual dan keimanan.

Di Tabagsel, istilah ini kerap digunakan bersamaan dengan Munggahan, mengikuti perbedaan wilayah, namun maknanya tetap sama yaitu pengingat agar umat bersiap secara fisik dan batin untuk menunaikan puasa.

Tradisi ini biasanya digelar di rumah-rumah atau masjid setempat dengan mengajak tetangga sekitar.

Tak kalah penting, hidangan khas Punggahan juga hadir sebagai simbol kebersamaan. Nasi kluban, tumpeng, apem, pasung, ketan, dan pisang raja disiapkan untuk disantap bersama atau dibagikan ke tetangga, menguatkan rasa solidaritas antarwarga.

  • Bagikan