“Saat kami teleponan, saya menyuruhnya untuk pergi keluar mencari tempat mengungsi yang aman, tapi ia tidak mau,”ungkapnya.
Bagi keluarga Tarihoran, Natal tahun ini dirayakan dengan sederhana, tanpa baju baru atau hidangan kue. Sebab, harta benda milik mereka sudah disapu oleh banjir bandang.
Tak ada yang tersisa, selain baju yang dipakai badan. “Rumah, pakain, surat-surat berharga hilang. Saat ini kami hanya berharap bantuan dari masyarakat agar kami bisa bertahan hidup.
“Tahun ini saya tidak bisa membawa seluruh anggota keluarga ke gereja. Sebab, ongkos mahal. Jadi, kami hanya pergi dua orang saja untuk menghemat biaya,”imbuhnya.
Ditanya tentang pemenuhan kebutuhan sehari-hari selama di tempat pengungsian, Tarihoran mengaku bahwa kebutuhan mereka selama di tempat pengungsian banyak dibantu oleh PT Agincourt Resources sebagai pengelola Tambang Emas Batang Toru.
“Dari hari pertama kejadian perusahaan sudah datang membantu kami, dan sampai saat ini, tiap hari mereka (PTAR) selalu datang untuk memenuhi kebutuhan di posko ini,”ujarnya.
Bukan hanya itu, kata Tarihoran, pihak perusahaan juga menyediakan layanan berobat gratis di posko tersebut.”Saya mau mengucapkan terima kasih kepada pihak perusahaan yang sudah membantu mereka dari awal hingga sekarang,”tandasnya.













