TAPANULI SELATAN-Pimpinan pondok pesantren (ponpes) meminta pencabutan izin operasional PT Agincourt Resources, sebagai pengelola Tambang Emas Batang Toru harua melalui kajian yang komprehensip.
Pernyataan itu diungkapkan OK Azmi Siregar, pimpinan Ponpes Tahfidz KH Muhammad Ya’Cub di Kecamatan Angkola Barat, Tapsel. Dijelaskan OK, sejak 2006, 2007, 2018 sampai hari ini, saya bisa katakan terlibat langsung melihat keberadaan PTAR.
“Sepuluh tahun saya sebagai pemerhati pendidikan di Batang Toru, sepuluh tahun sebagai anggota DPRD, dan lima tahun sebagai ketua OKP di sana. Saya melihat secara langsung dampak positifnya,” ujar OK Hazmi.
Ia menilai keberadaan PTAR selama ini memberikan kontribusi nyata terhadap sektor ekonomi, pendidikan, dan keagamaan di wilayah Batang Toru dan sekitarnya.
Bahkan, pada 2024, perusahaan disebut memberikan dividen hingga sekitar Rp40 miliar per tahun kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, belum termasuk dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Menurutnya, lonjakan anggaran pendidikan melalui program beasiswa menjadi bukti konkret komitmen perusahaan. “Tahun 2017, beasiswa Martabe hanya sekitar Rp187 juta. Tahun 2025 sudah hampir Rp5 miliar. Itu bukan kenaikan 100 persen lagi, tapi lompatan besar,” katanya.
Ia mengingatkan, wacana penutupan tambang atau penggantian pengelola tanpa kajian mendalam berpotensi menimbulkan dampak sosial yang luas, khususnya bagi sektor pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau sekadar ganti baju, tapi perhatiannya terhadap masyarakat tidak lebih baik, saya sebagai tokoh masyarakat lebih memilih ditutup total dan dikembalikan kepada masyarakat sesuai Pasal 33 UUD 1945. Tapi sebelum itu, harus ada kajian serius dan komprehensif,” ujarnya.
Sebagai pimpinan pondok pesantren, ia mengaku dalam dua tahun terakhir lembaga yang dipimpinnya turut menerima manfaat dari program CSR PTAR. Selain itu, keberadaan tambang juga disebut membantu pertumbuhan ekonomi lokal, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM), tidak hanya di Kecamatan Batang Toru, tetapi hingga wilayah Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara.













