”Hal ini dilakukan karena untuk menjadikan area rehabilitasi berfungsi atau mendekati rona awal, atau kondisi hutan original, maka area tersebut perlu diperkaya dengan tanaman spesies lokal,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, PTAR juga didampingi Biodiversity Advisory Panel (BAP), panel independen yang dibentuk sejak 2019 dan beranggotakan para ilmuwan Indonesia dengan keahlian di bidang ekosistem hutan.
Panel ini memberikan masukan ilmiah terkait pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati, termasuk dalam kegiatan rehabilitasi lahan.
Untuk mendukung program tersebut, PTAR memiliki tim rehabilitasi khusus serta fasilitas nursery seluas sekitar 6.000 meter persegi di area Tambang Emas Martabe.
Hingga akhir 2025, fasilitas pembibitan ini telah memproduksi 52.759 bibit tanaman lokal yang akan digunakan dalam kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi.ah













