TAPANULI SELATAN-PT Agincourt Resources, sebagai pengelola Tambang Emas Martabe Batang Toru, sudah melakukan rehabilitas bekas lahan tambang secara progresif. Rehabilitasi segera dilakukan oleh PT AR apabila lahan tersebut tidak lagi dipergunakan untuk keperluan produksi.
Tekad menjaga lingkungan secara berkesinambungan terus dilakukan perusahaan meski saat ini izin operasional masih dibekukan oleh pemerintah pusat.
Tambang Emas Martabe hingga saat ini tetap melakukan pemantauan kualitas lingkungan, serta perlindungan keanekaragaman hayati, tetap dilaksanakan secara konsisten.
Tercatat, pada 2025, PTAR merehabilitasi lahan seluas 54 hektare sebagai bagian dari upaya memulihkan fungsi lahan sekaligus memperkuat lanskap ekosistem hutan di sekitar area tambang.
Salah satu contoh keberhasilan rehabilitasi di PTAR dapat terlihat di area Henny Dump. Lokasi ini sebelumnya merupakan tempat penimbunan material sisa tambang.
Namun, kini pengelola tambang emas Martabe itu telah berhasil dikembalikan menjadi kawasan hutan melalui serangkaian proses rehabilitasi yang terencana dan berbasis ilmiah.
Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PTAR, Syaiful Anwar, menjelaskan bahwa Henny Dump merupakan salah satu area rehabilitasi yang memiliki tantangan tersendiri.
“Henny Dump ini merupakan area rehabilitasi yang cukup unik dan menantang karena material sisa tambang yang ditimbun di sana memiliki derajat keasaman sangat rendah, berkaitan dengan konsentrasi mineral ikutan atau logam berat yang relatif lebih tinggi,” ujarnya.
Karena kondisi tersebut, jenis tanaman yang dipilih harus mampu bertahan pada lingkungan dengan tingkat keasaman rendah dan konsentrasi logam yang tinggi.
Pendekatan ini bertujuan untuk menghijaukan kembali kawasan tersebut, sekaligus secara bertahap mengembalikan fungsi ekosistem agar mendekati kondisi hutan alami.
Hasilnya menunjukkan perkembangan yang positif. Berdasarkan pemantauan selama empat tahun hingga 2022, terjadi penurunan konsentrasi logam besi (ferrum) di area Henny Dump hingga 82 persen.
Proses rehabilitasi dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, PTAR menanam Legume Cover Crops (LCC) untuk membantu meningkatkan unsur hara tanah.
Selanjutnya, ditanam tanaman cepat tumbuh yang berfungsi mempercepat pemulihan kondisi lahan. Setelah tanaman tersebut berusia sekitar dua tahun, dilakukan pengayaan dengan tanaman spesies lokal untuk membentuk struktur vegetasi yang semakin mendekati ekosistem hutan asli.













