Jangan Hanya Lihat Aset, Koperasi Hidup Karena Solidaritas

  • Bagikan
koperasi hidup karena solidaritas

LENSAKINI – Selama ini, ketika berbicara tentang koperasi, perhatian publik hampir selalu tertuju pada angka yaitu berapa besar asetnya, berapa sisa hasil usaha yang dibagikan, berapa persen pertumbuhan tahun ini dibanding tahun lalu.

Logika ini terasa wajar karena kita hidup dalam budaya ekonomi yang menganggap grafik naik sebagai tanda keberhasilan dan grafik turun sebagai alarm kegagalan.

Namun koperasi sesungguhnya tidak lahir dari logika angka semata, melainkan dari kesepakatan moral dan sosial sekelompok orang yang percaya bahwa kebersamaan adalah jalan untuk memperkuat kehidupan ekonomi mereka.

Koperasi bukan sekedar badan usaha yang kebetulan memiliki anggota, namun persekutuan orang-orang yang sepakat berjalan bersama. Di dalamnya ada kepercayaan, partisipasi, disiplin, dan rasa memiliki yang tidak dapat sepenuhnya direkam dalam laporan keuangan.

Karena itu, menilai koperasi hanya dari aset sama seperti menilai kesehatan seseorang hanya dari berat badan mungkin terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Aset memang penting karena tanpa modal koperasi tidak bisa memberikan pinjaman, mengembangkan usaha, atau melayani kebutuhan anggotanya.

Namun aset hanyalah salah satu hasil dari proses sosial yang lebih dalam. Di balik angka-angka itu terdapat jaringan hubungan yang menentukan apakah koperasi akan tumbuh kokoh atau justru runtuh secara perlahan.

Ketika solidaritas di antara anggota kuat, keputusan diambil secara partisipatif, pengurus bekerja dengan integritas, dan mekanisme pengawasan berjalan, maka pertumbuhan ekonomi biasanya mengikuti sebagai konsekuensi.

Sebaliknya, ketika rasa memiliki melemah dan kepercayaan terkikis, aset sebesar apa pun tidak akan mampu menahan erosi dari dalam.

Banyak koperasi tampak besar di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik. Rapat anggota hanya formalitas, laporan keuangan tidak dipahami anggota, partisipasi menurun karena orang merasa suara mereka tidak lagi berarti.

Dalam kondisi seperti itu, koperasi berubah menjadi institusi administratif yang kehilangan ruh kolektifnya. Ia mungkin masih menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi fondasi sosialnya telah retak. Sejarah menunjukkan bahwa retakan semacam ini jarang terlihat dari luar, namun dampaknya bisa sangat menentukan dalam beberapa tahun ke depan.

  • Bagikan