Solidaritas adalah denyut kehidupan koperasi. Ia terwujud dalam kebiasaan sederhana seperti menghadiri rapat bukan sekedar untuk memenuhi kewajiban, melainkan karena merasa bagian dari keputusan bersama.
Koperasi tampak ketika anggota bersedia menabung dan membayar kewajiban dengan disiplin karena memahami bahwa dana tersebut adalah milik kolektif yang harus dijaga. Ia hidup dalam keberanian untuk mengkritik secara konstruktif dan dalam kesediaan pengurus untuk membuka diri terhadap pengawasan. Solidaritas bukan sekedar retorika yang diulang dalam pidato tahunan, melainkan praktik harian yang memelihara kepercayaan.
Di tengah arus ekonomi yang semakin kompetitif dan individualistik, koperasi sering terjebak dalam upaya meniru perusahaan konvensional demi mengejar pertumbuhan cepat.
Ekspansi dilakukan tanpa memperkuat partisipasi, teknologi diadopsi tanpa diiringi pendidikan anggota, dan target finansial dikejar tanpa memastikan bahwa nilai-nilai kolektif tetap terjaga. Padahal koperasi justru memiliki keunggulan karena ia berbeda.
Kekuatan koperasi bukan terletak pada kemampuan mengakumulasi modal semata, melainkan pada kemampuannya mengubah kepercayaan menjadi kekuatan ekonomi.
Ketika solidaritas terpelihara, koperasi memiliki daya tahan yang tidak dimiliki perusahaan biasa. Dalam situasi krisis, anggota cenderung saling menopang karena mereka memahami bahwa keberlangsungan lembaga adalah kepentingan bersama.
Rasa memiliki membuat orang rela berkorban lebih, menunda kepentingan pribadi demi stabilitas kolektif. Sebaliknya, jika hubungan sosial longgar dan kepercayaan rendah, sedikit guncangan saja dapat memicu kepanikan, penarikan dana besar-besaran, atau konflik internal yang merusak.
Karena itu, kebijakan publik yang hanya berfokus pada penambahan modal atau peningkatan aset tanpa memperhatikan kualitas relasi sosial berisiko salah arah.
Bantuan dana kepada koperasi yang solidaritasnya lemah bisa saja memperbesar kebocoran dan mempercepat keruntuhan. Sebaliknya, koperasi kecil dengan partisipasi kuat dan kepercayaan tinggi sering kali hanya membutuhkan sedikit dorongan untuk berkembang secara signifikan. Pertumbuhan yang berkelanjutan bukanlah hasil suntikan dana semata, melainkan buah dari fondasi sosial yang kokoh.
Membaca kesehatan koperasi dengan kacamata solidaritas menuntut kita melihat hal-hal yang sering diabaikan seberapa hidup rapat anggota, seberapa terbuka informasi disampaikan, seberapa konsisten aturan ditegakkan, dan seberapa besar ruang bagi kaderisasi generasi muda. Indikator-indikator ini mungkin tidak sepopuler angka aset, tetapi justru di situlah masa depan koperasi ditentukan.
Jika denyut sosialnya terjaga, maka ekspansi ekonomi memiliki pijakan yang aman; jika denyutnya melemah, maka pertumbuhan material hanyalah fatamorgana.
Pada akhirnya, koperasi berdiri di atas prinsip bahwa kesejahteraan tidak dibangun sendirian. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa kekuatan kolektif mampu memperluas peluang ekonomi yang tidak terjangkau oleh individu.
Aset dapat naik dan turun mengikuti siklus, tetapi solidaritas yang terpelihara akan menjadi jangkar yang menjaga arah. Karena itu, ketika kita menilai koperasi, jangan berhenti pada angka di neraca.
Lihatlah apakah ada rasa memiliki, apakah ada kepercayaan, apakah ada kebersamaan yang nyata. Di sanalah sesungguhnya kehidupan koperasi berdenyut, dan dari sanalah masa depannya ditentukan.













