JAKARTA (LENSAKINI) – Arab Saudi berpotensi menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah (H) lebih awal dibandingkan sebagian negara lain, termasuk Indonesia. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh metode dan kriteria yang digunakan dalam penentuan awal bulan Ramadhan.
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa potensi perbedaan awal puasa tahun ini tidak lagi semata-mata disebabkan posisi hilal seperti pada tahun-tahun sebelumnya, melainkan karena perbedaan pendekatan antara hilal lokal dan hilal global.
“Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadhan 1447 H. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan ‘hilal lokal’ dan ‘hilal global’,” ucapnya, saat dihubungi, Jumat (6/2/2026).
Thomas menyebutkan bahwa Arab Saudi menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), namun penetapannya tetap didasarkan pada rukyat. Meski demikian, praktik rukyat di Arab Saudi kerap dipengaruhi oleh kalender Ummul Quro.
“Jadi, kalau Arab Saudi (awal puasa) 18 Februari 2026 sekadar kebetulan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pendekatan tersebut, Arab Saudi diperkirakan akan menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026, lebih awal dibandingkan penetapan yang kemungkinan diambil oleh Pemerintah Indonesia.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) masih akan menetapkan awal Ramadhan 1447 H melalui sidang isbat yang digelar pada Selasa (17/2/2026).
Sidang tersebut akan memaparkan data hisab posisi hilal serta laporan hasil rukyatul hilal di 37 titik pengamatan di seluruh Indonesia dengan berpedoman pada kriteria MABIMS.
Dengan adanya perbedaan metode dan kriteria tersebut, potensi perbedaan awal Ramadhan 1447 H antara Arab Saudi dan Indonesia menjadi hal yang tidak terhindarkan.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika ilmiah dan ijtihad dalam penentuan awal bulan hijriah.













