Adapun skema keempat diterapkan khusus untuk lingkungan pesantren. Karena penerima manfaat dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berada dalam satu kawasan, waktu penyajian makanan disesuaikan dengan waktu berbuka puasa.
“Untuk pesantren, pelayanannya akan digeser ke saat buka. Jadi masaknya siang hari, dikonsumsi pada saat buka,” ujar Dadan.
Selain penyesuaian selama Ramadan, BGN juga tengah mematangkan mekanisme integrasi layanan MBG bagi kelompok lansia dan penyandang disabilitas.
Proses ini dilakukan bersama Kementerian Sosial, terutama untuk menjangkau lansia sebatang kara yang selama ini telah menerima bantuan makanan rutin.
“Untuk makanan nanti kita lihat mekanismenya, apakah itu dari Kementerian Sosial atau dari Badan Gizi Nasional. Jadi mekanismenya sedang kita matangkan,” katanya.
Dengan penyesuaian tersebut, program MBG diharapkan tetap berjalan optimal selama Ramadan, sekaligus menjaga pemenuhan gizi bagi anak sekolah, santri, dan kelompok rentan.













