LENSAKINI – Di tengah dunia yang semakin memuja kesibukan, tidur sering kali ditempatkan sebagai lawan dari produktivitas. Begadang dianggap tanda kerja keras, sementara istirahat kerap dipandang sebagai kelemahan.
Namun pandangan itu perlahan mulai digugat oleh sains modern dan pengalaman banyak tokoh dunia yang justru menemukan puncak kinerja mereka setelah memulihkan kualitas tidur.

Salah satu kisah yang kerap dijadikan titik balik pemahaman tentang tidur datang dari Arianna Huffington. Pada April 2007, ia pingsan di kantornya akibat kelelahan ekstrem.

Kepalanya menghantam meja hingga menyebabkan luka serius. Peristiwa itu bukan sekedar kecelakaan, melainkan alarm keras dari tubuh yang selama ini diabaikan di tengah ritme kerja tanpa henti membangun media digital The Huffington Post.
Dari momen itu, lahirlah kesadaran baru yang kemudian ia gaungkan melalui gagasan Sleep Revolution. Ia menantang budaya kerja modern yang mengagungkan kurang tidur sebagai harga sukses.
Dalam pandangannya, tidur bukan hambatan, melainkan fondasi utama kejernihan berpikir, kesehatan, kreativitas, dan keberhasilan jangka panjang.
Pandangan tersebut diperkuat oleh berbagai temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa kurang tidur berdampak langsung pada penurunan fungsi kognitif, emosi, hingga pengambilan keputusan.



















