LENSAKINI – Di sebuah ruang rapat kantor pusat Toshiba, suasana terasa tegang. Layar proyektor menampilkan laporan keuangan yang tidak sesuai harapan.
Angka-angka itu bukan sekadar data ia adalah cerminan tekanan besar yang selama ini membayangi perusahaan raksasa tersebut.

Dalam beberapa tahun sebelumnya, budaya kerja di Toshiba disebut dipenuhi tekanan target yang sangat tinggi. Para eksekutif dan karyawan berada dalam situasi di mana “tidak mencapai target” hampir tidak bisa diterima.

Dalam struktur organisasi yang hierarkis, keputusan dari atas sering kali sulit dibantah oleh bawahan. Kondisi inilah yang kemudian membuka ruang terjadinya manipulasi laporan keuangan secara bertahap hingga menjadi sistematis.
Awalnya, perubahan angka dilakukan dalam skala kecil. Namun seiring waktu, kebiasaan itu berkembang menjadi pola yang berulang. Banyak pihak di dalam perusahaan diduga menyadari ketidakwajaran tersebut, tetapi tekanan jabatan dan ketakutan kehilangan posisi membuat praktik itu terus berjalan.
Skandal ini akhirnya terungkap dan mengguncang dunia bisnis Jepang, memaksa sejumlah petinggi Toshiba mundur serta merusak reputasi perusahaan di tingkat global.
Fenomena serupa bukan hanya terjadi di satu perusahaan. Dunia kemudian kembali dikejutkan oleh kasus besar yang melibatkan salah satu tokoh paling berpengaruh di industri otomotif global Carlos Ghosn.
Sebagai pemimpin Nissan Motor Co. dan aliansi Renault, Nissan, Mitsubishi, Ghosn dikenal sebagai sosok penyelamat perusahaan dari krisis.



















