Sejumlah pengamat pendidikan menilai tingginya angka lulusan perguruan tinggi pada kelompok tertentu tidak dapat dilepaskan dari faktor budaya yang menempatkan pendidikan sebagai sarana mobilitas sosial, serta sejarah panjang perantauan yang mendorong pencapaian akademik.
Meski demikian, BPS menekankan bahwa data ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan kualitas sumber daya manusia antar suku, melainkan sebagai potret statistik tingkat pendidikan formal berdasarkan latar belakang etnis.
Faktor geografis, ekonomi, dan ketersediaan fasilitas pendidikan turut berperan besar dalam membentuk capaian tersebut.
Pemerintah sendiri terus mendorong pemerataan akses pendidikan tinggi melalui berbagai program afirmasi, beasiswa, dan penguatan perguruan tinggi di daerah, dengan harapan kesenjangan antar wilayah dan kelompok masyarakat dapat terus diperkecil.













