Di sejumlah wilayah, masyarakat bahkan ikut bergotong royong membangun dapur MBG. Hal ini membuat program tersebut tidak semata bergantung pada belanja negara, tetapi juga mendorong partisipasi investasi masyarakat.
Selain investasi, dapur MBG juga membuka peluang kerja baru. Setiap dapur rata-rata memproduksi sekitar 3.500 porsi makanan per hari dan membutuhkan 40 hingga 50 tenaga kerja. Dengan ratusan dapur yang telah berjalan, puluhan ribu lapangan kerja langsung diperkirakan telah tercipta di berbagai daerah.
Permintaan bahan pangan yang stabil juga memberi dampak pada sektor pertanian dan peternakan. Kebutuhan beras, telur, ayam, susu, serta sayuran dalam jumlah besar membuka peluang pasar bagi petani, peternak, hingga pelaku UMKM pangan.
“Yang penting bukan harga tinggi sesaat, tetapi ada pembeli rutin dengan harga lumayan,” ujar seorang peternak telur di Jawa Tengah yang kini memasok kebutuhan dapur MBG.
Dalam pandangan Anindya, program ini juga harus dilihat sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia. Berbagai penelitian ekonomi menunjukkan bahwa pemenuhan gizi sejak usia dini memiliki dampak besar terhadap produktivitas dan kesejahteraan di masa depan.
Karena itu, MBG tidak hanya dipandang sebagai bantuan sosial, tetapi sebagai strategi pembangunan sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
“Di setiap piring MBG tersimpan pilihan besar arah masa depan bangsa untuk membangun Indonesia dari dasar: manusia yang sehat, kuat, dan bermartabat,” kata Anindya.
Terakhir Anindya menilai jika dikelola secara konsisten, transparan, dan melibatkan pelaku usaha lokal, program MBG dapat menjadi model pembangunan yang sederhana namun kokoh membangun manusia sekaligus menumbuhkan ekonomi daerah.













