Namun pada 2018, ia ditangkap di Jepang dengan tuduhan pelanggaran keuangan dan penyalahgunaan aset perusahaan. Kasus ini menjadi sorotan internasional karena melibatkan figur yang selama bertahun-tahun dipandang sebagai simbol kesuksesan.
Para pengamat menyebut kasus tersebut sebagai gambaran dari power entrenchment, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu lama berada di puncak kekuasaan hingga kehilangan batas moral dan kontrol diri terhadap aturan yang berlaku.

Namun tidak semua kisah kepemimpinan berakhir dengan skandal dan kejatuhan.

Pada 2019, Corie Barry, seorang eksekutif di Best Buy Co., Inc., menerima tawaran besar: menjadi kandidat CEO perusahaan tersebut. Bagi banyak orang, itu adalah puncak karier. Namun respons Barry justru mengejutkan.
Ia tidak langsung menerima tawaran tersebut. Sebaliknya, ia menulis memo panjang yang menjelaskan bahwa dirinya belum sepenuhnya siap memimpin perusahaan sebesar Best Buy dan masih perlu banyak belajar. Dalam dunia korporasi yang kompetitif, sikap seperti ini bukan hal yang umum.
Namun justru sikap jujur itu yang kemudian dinilai sebagai tanda kedewasaan kepemimpinan. Dewan direksi melihat bahwa kemampuan mengakui keterbatasan adalah kualitas penting bagi seorang pemimpin modern. Pada akhirnya, Corie Barry tetap ditunjuk sebagai CEO.
Di tempat lain, perubahan besar juga terjadi di Microsoft ketika Satya Nadella diangkat menjadi CEO pada 2014. Ia tidak datang dengan klaim kesempurnaan atau dominasi, melainkan dengan pendekatan yang menekankan pembelajaran dan empati.



















