LENSAKINI – Di Warung Kopi Cak Rochim Pekauman Gresik, pagi tidak pernah benar-benar berjalan pelan. Ada yang datang hanya untuk duduk, menunggu gelas kopi menjadi alasan agar obrolan bisa panjang.
Ada pula yang singgah sebentar, mengambil nasi bungkus, lalu kembali dikejar waktu.

Pagi itu, pesan singkat dari Cak Tain mengalir seperti biasa menu hari ini adalah mulbie. Sebuah sebutan lokal yang sederhana, tapi cukup untuk membuat suasana warung berubah lebih sibuk dari biasanya.

Tak lama kemudian, terlihat jelas pergeseran kecil yang menarik perhatian lebih banyak pelanggan memilih nasi mereka dibungkus daripada disantap di tempat.
Di meja-meja kayu yang biasanya menjadi ruang pertemuan cerita, kini sebagian kursi kosong lebih cepat dari biasanya.
Bungkusan kertas cokelat berpindah tangan dengan cepat berisi nasi, daging dan tahu bumbu osek, mi, serta dadar telur yang tersusun padat.
Sederhana, tetapi cukup untuk mengisi tenaga mereka yang harus segera kembali ke rutinitas.
Di sinilah warung kopi menunjukkan wajah gandanya. Ia bukan lagi sekadar ruang singgah untuk bersantai, tetapi juga titik transit kehidupan yang serba cepat.



















