TAPANULI SELATAN – Pengamat sosial Halomoan Harahap mengusulkan pembangunan portal permanen dengan batas muatan maksimal 6 ton untuk mencegah kerusakan jalan yang semakin parah di titik rawan tersebut.
Menurut Halomoan, usulan ini sejalan dengan aspirasi warga setempat yang selama ini merasakan langsung dampak kerusakan jalan. Ia menjelaskan, sebelumnya pernah dipasang portal sementara berupa excavator yang ditempatkan di badan jalan.
Selama portal itu terpasang, kondisi jalan lintas Sipirok–Tarutung relatif aman karena kendaraan bermuatan berat tidak leluasa melintas.
Namun sejak portal excavator tersebut dicopot tahun lalu, kondisi jalan disebut terus memburuk. Badan jalan makin rusak, bahkan amblas, dan berulang kali bermasalah.
“Ketika portal masih ada, jalan relatif terjaga. Setelah dicopot, kerusakan makin cepat dan masalahnya terus berulang. Karena itu perlu portal permanen dengan batas maksimal 6 ton,” ujar Halomoan.
Ia menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena Batu Jomba merupakan jalur penting yang menghubungkan arus orang dan barang menuju kawasan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).
Kerusakan yang terus berulang, katanya, menghambat mobilitas masyarakat sekaligus mengganggu distribusi barang dan aktivitas ekonomi warga.
Halomoan berharap pemerintah dan instansi terkait segera menindaklanjuti usulan tersebut, baik dengan membangun portal permanen maupun melakukan penanganan menyeluruh terhadap ruas jalan yang amblas, agar jalur Batu Jomba kembali aman dan lancar dilalui.
Jalur Sipirok – Tarutung khususnya pahae – sipirok adalah jalur patahan dan sangat rawan longsor jalan, amblas. Sehingga pembatasan tonase kendaraan mutlak dan wajib dilakukan.
















