Ketika Siaran Pers Menjadi Alat Mengubur Kebenaran

  • Bagikan
Ketika Siaran Pers Menjadi Alat Mengubur Kebenaran

Siaran pers seharusnya menjadi jembatan informasi antara lembaga dan masyarakat. Namun, ketika lebih sibuk membangun citra daripada menyampaikan fakta, komunikasi publik justru berisiko menjadi alat untuk menutupi kenyataan.

Pada 11 September 2001, Jo Moore, penasihat media pemerintah Inggris, mengirimkan email yang menyebut tragedi serangan terhadap World Trade Center sebagai kesempatan untuk mengumumkan sesuatu yang ingin dijauhkan dari perhatian publik. Email itu bocor dan memicu kontroversi. Sebuah strategi komunikasi justru berubah menjadi persoalan etika.

Peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa keberhasilan komunikasi tidak cukup diukur dari banyaknya pemberitaan positif.

Siaran pers yang dipenuhi pujian, tetapi menghindari persoalan mendasar, hanya akan melahirkan kesan tanpa memberikan pemahaman.

Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas: apa yang terjadi, apa buktinya, siapa yang terdampak, dan bagaimana masalah diselesaikan. Jika ada kekurangan, jelaskan. Jika data belum lengkap, katakan.

Kejujuran mungkin mengundang pertanyaan sulit, tetapi menutupi kenyataan dapat merusak kepercayaan jauh lebih dalam.

Pada akhirnya, siaran pers bukan sekadar instrumen membentuk persepsi. Ia merupakan tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebelum menekan tombol kirim, setiap pengelola komunikasi perlu bertanya: apakah pesan ini membantu masyarakat memahami kenyataan, atau justru membuat mereka menjauh dari kebenaran?

Sebab, citra bisa dibangun melalui kata-kata, tetapi kepercayaan hanya tumbuh dari kejujuran.

  • Bagikan