Cara JWS Rizki Memaknai Perjuangan Kartini di Era Modern

  • Bagikan
Cara JWS Rizki Sitompul Memaknai Perjuangan Kartini di Era Modern
Dr. Juni Wati Sri Rizki, S.Sos., M.A seusai Memperingati Hari Kartini yang ke-62 tahun 2026 bersama DWP UIN Syeikh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan/ Ist

LENSAKINI – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali menoleh pada sosok perempuan yang namanya tak lekang oleh waktu yakni Raden Ajeng Kartini.

Namun, bagi Dr. Juni Wati Sri Rizki, S.Sos., M.A. (JWS Rizki), peringatan Hari Kartini bukan sekedar seremoni tahunan melainkan momentum reflektif sebuah pengingat bahwa perjuangan perempuan untuk berkontribusi dalam memajukan peradaban tidak pernah berhenti.

Bagi JWS Rizki yang juga merupakan Sekretaris Forum Ketua DWP PTKN se-Indonesia, Kartini bukan hanya simbol emansipasi dalam arti sempit. Lebih dari itu, Kartini adalah representasi keberanian berpikir, keberanian melampaui batas zamannya, dan keberanian untuk membuka akses pengetahuan bagi sesama.

Dalam pandangannya, semangat inilah yang harus terus dihidupkan, terutama oleh perempuan masa kini yang hidup di tengah derasnya arus perubahan.

Salah satu aspek yang paling membekas di hati JWS Rizki Sitompul yang selaku Ketua Yayasan Muslimah Peduli Alam adalah ketika ia mengetahui peran Kartini sebagai inisiator penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa.

Upaya tersebut bukan hanya tindakan intelektual, melainkan bentuk kepedulian yang mendalam terhadap masyarakat.

Kartini ingin agar ajaran agama tidak menjadi sesuatu yang eksklusif, melainkan dapat dipahami secara luas oleh masyarakat pribumi yang saat itu memiliki keterbatasan akses bahasa.

“Di situlah saya melihat Kartini sebagai sosok yang tidak hanya cerdas, tetapi juga inklusif,” ungkap JWS Rizki Sitompul dalam refleksinya.

Kemudian baginya, langkah Kartini tersebut menunjukkan bahwa perjuangan perempuan tidak selalu harus tampil dalam bentuk besar dan revolusioner.

Terkadang, kontribusi nyata justru hadir melalui upaya sederhana yang berdampak luas seperti memudahkan orang lain memahami ilmu dan nilai-nilai kehidupan.

Di era modern saat ini, semangat tersebut menjadi semakin relevan. Perempuan tidak lagi hanya berperan di ruang domestik, melainkan telah menjelma menjadi agen perubahan di berbagai sektor mulai pendidikan, sosial, ekonomi, hingga teknologi.

  • Bagikan