Dua Cara Hidup Filsuf Dunia dalam Bekerja dan Berkarya

  • Bagikan
kebiasaan hidup filsuf dunia

Bangun pagi dalam suhu ekstrem bukan sekadar soal disiplin, tetapi juga soal ketahanan tubuh. Dalam kondisi itu, kesehatannya perlahan menurun hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Kisah Descartes meninggalkan satu kesan sederhana manusia bukan hanya butuh tujuan, tetapi juga ritme hidup yang sesuai dengan dirinya.

Beberapa dekade kemudian, di Jerman, hidup seorang penyair bernama Friedrich Schiller. Jika Descartes bekerja dalam ketenangan, Schiller justru hidup dalam ketegangan yang penuh energi.

Di ruang kerjanya, terdapat kebiasaan yang tidak lazim. Ia menyimpan apel busuk di laci meja. Bagi orang lain, bau itu mengganggu. Tetapi bagi Schiller, justru aroma itulah yang membangkitkan semangatnya untuk menulis. Ia juga terbiasa bekerja pada malam hari, ketika seluruh rumah sudah sunyi.

Dalam kesunyian itu, ia menulis tanpa henti. Kadang berbicara sendiri, kadang berjalan mondar-mandir, lalu kembali menulis dengan cepat. Tubuhnya dipaksa bekerja keras, ditemani kopi, tembakau, dan waktu tidur yang sangat sedikit.

Seperti Descartes, tubuh Schiller juga tidak selalu mampu mengikuti ritme yang ia pilih. Kesehatannya menurun, tetapi ia tetap menulis. Ia seolah percaya bahwa waktu terlalu berharga untuk disia-siakan.

Dua tokoh ini menunjukkan hal yang berbeda, tetapi juga serupa. Descartes memilih ketenangan. Schiller memilih intensitas. Namun keduanya punya satu kesamaan mereka hidup dengan kebiasaan yang mereka jaga setiap hari.

Dari dua cara hidup itu, ada pelajaran yang sulit diabaikan. Karya besar tidak selalu lahir dari momen luar biasa. Sering kali ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus, dalam diam, dalam lelah, dan dalam kesederhanaan hari-hari yang tidak selalu istimewa.

  • Bagikan