Media Sosial dan Ilusi Hidup Sempurna

  • Bagikan
Media sosial dan ilusi hidup sempurna

Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG

LENSAKINI – Emma memiliki kehidupan yang mungkin membuat banyak orang iri. Ia cantik, berprestasi, mahasiswa honors, mengambil dua jurusan sekaligus yaitu finance dan psychology, serta aktif dalam organisasi kampus bergengsi. Jika kehidupan dinilai seperti sebuah daftar pencapaian, Emma tampak memiliki hampir semuanya.

Namun seperti banyak orang lainnya, Emma tetap pernah merasa hidupnya kurang ketika melihat kehidupan orang lain di media sosial.

Sebuah unggahan foto liburan, pencapaian akademik, tubuh yang terlihat ideal, atau kabar keberhasilan teman dapat memunculkan pertanyaan sederhana dalam pikiran. Mengapa hidup mereka terlihat lebih baik daripada saya?

Padahal bisa jadi pada saat yang sama, orang lain sedang melihat kehidupan Emma dan berpikir hal yang sama.

Di sinilah media sosial menghadirkan sebuah paradoks. Kita sering membandingkan seluruh kehidupan kita dengan segala kegagalan, kekhawatiran, masalah, dan kekurangan yang ada dengan potongan terbaik kehidupan orang lain yang mereka pilih untuk ditampilkan.

Kita mengetahui seluruh cerita tentang diri sendiri. Kita tahu target yang belum tercapai, kesalahan masa lalu, tekanan pekerjaan, masalah keuangan, hingga hal-hal yang tidak pernah kita ceritakan kepada orang lain.

Sementara tentang kehidupan seseorang di media sosial, sering kali kita hanya melihat beberapa detik dari perjalanan mereka. Namun beberapa detik itu cukup membuat kita merasa tertinggal.

Peneliti Donna Freitas dalam bukunya The Happiness Effect menjelaskan fenomena ketika media sosial mendorong seseorang untuk selalu menampilkan sisi positif dan bahagia dari kehidupannya. Bukan berarti kebahagiaan yang ditampilkan itu palsu, tetapi apa yang terlihat belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita.

Kita melihat seseorang mendapat promosi, tetapi tidak melihat berbagai kegagalan yang pernah ia alami. Kita melihat pasangan yang tampak bahagia saat berlibur, tetapi tidak mengetahui masalah yang mungkin mereka hadapi sebelum foto itu diambil. Kita melihat seseorang membeli rumah, tetapi tidak melihat perjuangan dan tanggung jawab yang ada di baliknya.

Media sosial tidak selalu berbohong. Namun media sosial sering kali hanya menunjukkan bagian yang dipilih untuk terlihat.

Karena itu, mengejar kehidupan yang tampak sempurna menjadi perjalanan yang melelahkan. Akan selalu ada seseorang yang terlihat lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, lebih bahagia, atau lebih produktif dibandingkan kita.

Padahal kehidupan yang sebenarnya tidak berlangsung di dalam layar. Setelah kamera dimatikan dan unggahan selesai dibuat, setiap orang tetap kembali menghadapi realitasnya masing-masing. Ada pekerjaan yang belum selesai, masalah yang harus diselesaikan, hubungan yang perlu dijaga, dan mimpi yang masih diperjuangkan.

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa hidup orang lain terlihat lebih indah, tetapi apakah kita sedang melihat kehidupan mereka secara utuh atau hanya melihat bagian terbaik yang mereka pilih untuk diperlihatkan.

Sebab bisa jadi orang yang selama ini kita anggap memiliki segalanya juga sedang melihat kehidupan orang lain dan bertanya hal yang sama.

Mengapa hidup mereka terlihat lebih baik daripada saya?

  • Bagikan