Perusahaan Bisa Kehilangan Orang Terbaik Bukan Karena Gaji

  • Bagikan
kehilangan orang terbaik bukan karena gaji

Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG

LENSAKINI – Orang terbaik tidak selalu pergi karena tawaran yang lebih besar. Kadang mereka pergi karena terlalu lama bekerja dalam keadaan lelah.

Ada perusahaan yang kehilangan orang terbaiknya karena kalah bersaing soal gaji. Namun ada pula yang kehilangan mereka justru ketika bisnis sedang tumbuh, target tercapai, klien terlayani, dan proyek terus berjalan.

Masalahnya sering baru terlihat ketika kursi mulai kosong.

Kisah Ernst & Young pada akhir 1990-an, sebagaimana diceritakan Janet Brigham Bernstel dan Stephen Windhaus dalam 10 Minute Guide to Getting Organized, menunjukkan bahwa kelelahan pekerja dapat berubah menjadi persoalan bisnis. Perusahaan tersebut kehilangan sekitar 22 persen profesional perempuannya setiap tahun. Biaya merekrut dan melatih pengganti pun diperkirakan mencapai US$150.000 per posisi.

Angka itu menunjukkan satu hal sederhana: burnout bukan semata persoalan pribadi. Ia bisa menjadi biaya organisasi.

Kita sering keliru mengukur produktivitas dari seberapa sibuk seseorang. Datang lebih pagi, pulang lebih malam, terus membalas pesan, selalu siap ketika dicari. Kesibukan akhirnya dianggap sebagai bukti dedikasi.

Padahal manusia bukan mesin yang bisa terus dipacu tanpa jeda.

Dalam kasus Ernst & Young, perubahan kemudian diarahkan pada cara kerja. Penambahan staf administratif, pembatasan perjalanan, hingga larangan memeriksa email dan voicemail kantor pada akhir pekan menjadi bagian dari upaya mengurangi beban yang tidak perlu.

Pelajarannya sederhana: ketika orang mulai kelelahan, jangan buru-buru menyuruh mereka menjadi lebih tangguh. Bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan manusianya, melainkan sistem kerjanya.

Seorang pemimpin tidak cukup bertanya, “Berapa banyak pekerjaan yang selesai hari ini?”

Ia juga perlu bertanya, “Berapa banyak energi yang masih tersisa untuk besok?”

Sebab perusahaan yang terus mengejar target dengan menghabiskan orang-orang terbaiknya mungkin terlihat produktif untuk sementara waktu.

Sampai akhirnya, target masih ada, pekerjaan masih menunggu, tetapi orang-orang yang paling mampu mengerjakannya sudah memilih pergi.

  • Bagikan