LENSAKINI – Beberapa tahun lalu di Australia, terjadi fenomena yang lucu sekaligus agak mengkhawatirkan. Setelah Pemilu federal 2013, para peneliti menemukan bahwa jutaan pemilih tiba-tiba mengubah pandangan mereka tentang kondisi ekonomi negara.
Bukan karena inflasi naik atau pabrik-pabrik tutup. Ekonominya hampir sama seperti beberapa bulan sebelumnya yang berubah hanyalah siapa yang menang dalam pemilu.
Pendukung partai pemenang menjadi optimistis, melihat masa depan cerah, sementara pendukung partai yang kalah mendadak pesimis.
Fenomena ini mirip dengan perilaku suporter sepak bola: ketika tim kesayangan menang, segala hal terasa sempurna ketika kalah, segalanya tampak salah.
Bernard Keane dan Helen Razer menyebut fenomena ini sebagai denialism kecenderungan menolak kenyataan hanya karena kenyataan itu tidak sesuai dengan keyakinan kita.
Sikap emosional ini sebenarnya sudah mengakar, namun di era media sosial, gejala sok tahu menjadi lebih nyata.
Berita baru muncul jam delapan pagi, dua menit kemudian sudah ada yang menarik kesimpulan mutlak, menit kelima muncul utas panjang berisi analisis sok tahu, dan dalam setengah jam perang komentar sudah pecah. Ironisnya, menjelang siang, hampir tidak ada yang ingat isi berita awalnya.














