Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Sebagian orang mungkin menjawab rumah. Ada yang menyebut mobil. Kalau sedang nekat, mungkin jam tangan atau tas bermerek. Saya belum pernah mendengar ada orang berkata, “Saya baru saja membeli kursi.”
Morgan Housel, penulis The Psychology of Money dan The Art of Spending Money, pernah bekerja sebagai petugas valet di sebuah hotel mewah di Los Angeles. Di sanalah ia menyaksikan seorang tamu membeli sebuah kursi seharga sekitar US$21.000.
Melihat wajah para petugas yang melongo, pria itu hanya tersenyum dan berkata, “Kalau sudah punya uang, memang beginilah seharusnya.”
Saya tidak berhenti pada harga kursinya. Saya justru berhenti pada satu kata yang terdengar sepele.
Seharusnya.
Mungkin lebih banyak uang habis karena kata “seharusnya” daripada karena inflasi.
Usia tiga puluh seharusnya sudah punya rumah. Manajer seharusnya naik SUV. Direktur seharusnya memakai jam tangan Swiss. Liburan seharusnya ke Jepang atau Eropa, bukan sekadar ke rumah nenek. Bahkan ulang tahun anak kadang terasa seharusnya dirayakan di hotel agar fotonya pantas diunggah ke media sosial.
Lucunya, kita sering tidak bertanya apakah barang itu berguna. Yang kita tanyakan justru: “Kalau saya tidak membelinya, apa kata orang?” Kita membeli agar cerita hidup kita terlihat sesuai dengan harapan orang lain.
Housel menceritakan kisah lain yang tak kalah menarik. Seorang perempuan menjalani operasi LASIK dengan harapan hidupnya berubah. Operasinya berhasil. Ia bisa melihat dunia tanpa kacamata. Namun, beberapa minggu kemudian ia kembali menemui dokter sambil berkata, “Operasi ini merusak hidup saya.”
Masalahnya ternyata bukan pada mata. Selama ini ia membayangkan bahwa tanpa kacamata suaminya akan lebih mencintainya dan rekan kerjanya akan lebih menghormatinya. Ketika kenyataan tidak berubah, ia menyalahkan operasinya. Dokternya hanya berkata singkat, “Masalah Anda bukan pada mata.”
Saya rasa banyak dari kita diam-diam juga sedang menjalani “LASIK finansial”. Kita percaya bahwa kenaikan gaji, rumah yang lebih besar, atau mobil yang lebih mahal akan secara otomatis membuat hidup terasa lebih lengkap. Ketika semua itu akhirnya dimiliki, yang berubah sering kali hanya angka di rekening. Kekhawatiran tetap muncul, hanya dengan mengenakan pakaian yang lebih mahal.
Rupanya otak memang cepat bosan.
Mobil baru hanya terasa baru selama beberapa minggu. Rumah baru perlahan berubah menjadi rumah biasa. Gaji yang dulu terasa besar akhirnya terasa pas-pasan.
Brickman dan Campbell (1971) menyebut kecenderungan ini sebagai hedonic adaptation.
Belum selesai. Leon Festinger (1954) menjelaskan bahwa kita juga gemar membandingkan diri dengan orang lain. Itu seperti berlari di treadmill. Keringat bercucuran, tenaga habis, tetapi pemandangannya tidak pernah berubah.
Karena itulah Housel memasukkan kisah seorang nelayan di Meksiko. Seorang pebisnis Amerika menyarankan agar ia bekerja lebih keras, membeli lebih banyak perahu, membangun perusahaan, lalu pensiun sepuluh tahun kemudian. Ketika ditanya apa yang akan dilakukan setelah pensiun, jawabannya sederhana: tidur lebih lama, bermain gitar, membaca buku, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Nelayan itu tersenyum. “Itu yang saya lakukan setiap hari.”
Kadang-kadang kita bekerja sangat keras untuk mendapatkan kehidupan yang sebenarnya sudah kita miliki, tetapi tidak sempat kita nikmati.
Kisah yang paling menghangatkan hati justru datang dari nenek mertua Housel. Ia hidup sederhana dari tunjangan sosial, berkebun di halaman rumah, dan meminjam buku dari perpustakaan. Housel mengaku pernah bertemu orang-orang yang kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan, tetapi tidak banyak yang tampak setenang perempuan tua itu. Rupanya, rasa cukup adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli.
Penelitian Daniel Kahneman dan Angus Deaton (2010) memperkuat gambaran tersebut. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, tambahan pendapatan memang masih memberi manfaat, tetapi peningkatan kebahagiaan emosional tidak lagi berjalan seiring dengan bertambahnya uang. Pada titik tertentu, yang lebih menentukan adalah hubungan yang sehat, waktu yang bermakna, dan kemampuan untuk mengatakan, “Ini sudah cukup.”
Saya kemudian kembali teringat kursi seharga Rp340 juta itu.
Mungkin yang mahal bukan kayunya.
Bukan desainnya.
Bukan pula mereknya.
Yang mahal adalah usaha untuk memenuhi sebuah kata yang tidak pernah selesai ditagih.
Seharusnya.
Saya juga pernah membeli sesuatu yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Bukan karena barangnya penting, tetapi karena saya takut terlihat ketinggalan. Beberapa bulan kemudian, saya bahkan lupa di mana saya menyimpannya.
Mungkin ukuran kekayaan yang paling jujur bukanlah seberapa banyak yang mampu kita beli. Melainkan seberapa sedikit hal yang masih kita perlukan agar kita merasa hidup kita sudah lengkap.














