Mendengar Lebih Berarti daripada Memerintah

  • Bagikan
mendengar lebih penting daripada memerintah dalam kepemimpinan

LENSAKINI – Di banyak organisasi kekuasaan sering dianggap sebagai alat utama untuk menggerakkan orang. Pemimpin merasa bahwa perintah yang jelas dan tegas adalah kunci agar pekerjaan berjalan sesuai rencana.

Namun pengalaman di lapangan sering menunjukkan hal yang berbeda. Kepemimpinan yang hanya bertumpu pada perintah justru berisiko menciptakan jarak antara pemimpin dan tim.

Kisah Dudley Slater memberi gambaran yang sederhana namun kuat. Ia datang sebagai pemimpin baru di sebuah perusahaan telekomunikasi dengan latar belakang yang tidak sepenuhnya teknis.

Di hadapannya ada para insinyur yang lebih berpengalaman dan lebih memahami detail pekerjaan. Situasi ini menciptakan ketegangan yang tidak terlihat tetapi terasa.

Dalam kondisi seperti itu pilihan yang paling mudah sebenarnya adalah menegaskan otoritas. Dudley bisa saja menggunakan jabatannya untuk memastikan semua orang mengikuti arahannya. Namun ia memilih jalan yang tidak populer. Ia memilih untuk mendengar.

Pilihan ini bukan tanpa risiko. Mendengar membutuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Mendengar juga berarti mengakui bahwa orang lain memiliki pengetahuan yang lebih baik dalam bidang tertentu.

Bagi sebagian pemimpin hal ini terasa seperti melemahkan posisi. Padahal justru di situlah letak kekuatannya.

Dudley memahami bahwa kepercayaan tidak lahir dari jabatan. Kepercayaan tumbuh dari sikap yang konsisten. Ia mulai membangun hubungan dengan timnya secara perlahan. Ia tidak terburu buru mengubah keadaan. Ia hadir untuk memahami bukan untuk menghakimi.

  • Bagikan