Kekuasaan Bisa Pergi, Integritas Tetap Tinggal

  • Bagikan
David Gergen dan pelajaran integritas dari Watergate

LENSAKINI – Suatu pagi di bulan Agustus 1974, halaman Gedung Putih menjadi saksi peristiwa yang mengguncang dunia. Sebuah helikopter Marine One perlahan terangkat, membawa pergi seorang presiden yang baru saja menyerahkan jabatannya.

Di dalamnya, Richard Nixon meninggalkan kursi kekuasaan setelah terjerat skandal Watergate scandal krisis yang mengubah wajah politik Amerika Serikat.

Di antara orang-orang yang menyaksikan momen itu berdiri seorang pria muda: David Gergen. Ia bukan sekadar saksi sejarah, melainkan bagian dari lingkaran dalam kekuasaan yang ikut merasakan getarannya dari dekat.

Karier Gergen saat itu tengah menanjak. Di usia 28 tahun, ia telah menjadi penulis pidato presiden, lalu dipercaya memimpin tim penulis dan riset.

Gedung Putih bukan hanya tempat kerja, tetapi juga panggung ambisi, prestise, dan pengaruh. Dalam pusaran itu, ia sempat larut meyakini bahwa dirinya penting, tanpa menyadari bahwa pentingnya itu melekat pada jabatan, bukan pada dirinya sebagai pribadi.

Ketika isu skandal Watergate mulai mencuat pada 1973, Gergen, seperti banyak staf lain, memilih percaya pada narasi resmi. Ia tetap loyal, bertahan di tengah badai yang kian membesar.

Loyalitas, pada saat itu, terasa seperti kehormatan—meski kemudian ia sadari, juga bisa menjadi jebakan.

Kebenaran baru benar-benar terkuak menjelang akhir. Dua hari sebelum pengunduran diri Nixon, Gergen akhirnya memahami bahwa presiden yang ia layani memang bersalah.

Namun keputusan untuk pergi tidak serta-merta menjadi mudah. Ia dihadapkan pada dilema klasik: bertahan demi kesetiaan, atau pergi demi prinsip.

Ironisnya, di tengah krisis itu, Gergen justru diminta menyusun draf surat pengunduran diri presiden.

  • Bagikan