Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – Lelah Bukan Karena Bekerja
Kadang seseorang mengalami burnout bukan karena pekerjaannya terlalu berat, melainkan karena terlalu lama merasa harus membuktikan bahwa dirinya cukup baik, cukup mampu, dan cukup berharga.
Dalam buku Burnout: How to Manage Your Nervous System Before It Manages You (2024), Claire Plumbly menceritakan kisah Suraj, seorang arsitek junior di sebuah biro ternama. Ia adalah sosok yang disiplin, ambisius, produktif, dan terlihat seperti karyawan ideal. Ia mengatur waktunya dengan rapi, bermeditasi, menjaga rutinitas, serta selalu berusaha memberikan hasil terbaik.
Namun sebuah email revisi dari klien mengubah semuanya.
Bagi orang lain, revisi adalah bagian biasa dari pekerjaan. Bagi Suraj, revisi terasa seperti ancaman terhadap harga dirinya. Ia tidak hanya berpikir tentang desain yang harus diperbaiki, tetapi mulai mempertanyakan apakah dirinya cukup kompeten.
Ia kemudian mencurahkan seluruh energinya untuk menyempurnakan pekerjaan tersebut. Bukan semata-mata karena ingin menghasilkan karya terbaik, tetapi karena takut dianggap gagal.
Tekanan Tidak Menghancurkan Karier
Ironisnya, tekanan itu tidak menghancurkan kariernya, melainkan mulai mengganggu kehidupan pribadinya. Saat pulang, energi Suraj sudah habis. Ia mudah marah dan sulit hadir untuk orang-orang terdekatnya hingga pasangannya meminta ia mencari bantuan.
Masalah Suraj ternyata bukan dimulai dari pekerjaan, melainkan dari keyakinan lama yang terbentuk sejak kecil: bahwa prestasi adalah cara untuk merasa aman dan diterima.
Sebagai anak yang selalu dituntut berprestasi, ia belajar bahwa kesalahan berarti ancaman. Maka terbentuk pola pikir: jika saya berhasil, saya aman; jika saya tidak membuat kesalahan, saya tidak akan ditolak.
Pola itu memang membuat Suraj sukses. Namun kekuatan yang sama perlahan menjadi beban. Perfeksionisme membuatnya sulit menerima kekurangan, kemandirian membuatnya enggan meminta bantuan, dan ambisi membuatnya lupa bahwa manusia juga memiliki batas.
Inilah paradoks burnout. Kadang yang menguras kita bukan kelemahan, melainkan kelebihan yang digunakan tanpa jeda.














