Xi Jinping dan Krisis Loyalitas di Militer Tiongkok

  • Bagikan
Krisis loyalitas di militer Tiongkok

Oleh karena itu, modernisasi militer Tiongkok tidak hanya berfokus pada teknologi dan persenjataan, tetapi juga pada penguatan loyalitas politik kepada Partai Komunis.

Pembersihan politik ini tidak terbatas pada penghapusan individu yang dianggap bermasalah. Bahkan, jenderal-jenderal berpengalaman seperti Zhang Youxia, yang dianggap sebagai salah satu sekutu utama Xi, pun tersingkir karena ketidaksepakatan tentang arah reformasi militer.

Ini memperlihatkan bahwa bagi Xi, loyalitas politik jauh lebih penting daripada pengalaman atau profesionalisme militer. Dalam sistem yang dikendalikan oleh Partai, tidak ada tempat untuk mereka yang “memiliki hati yang terbagi.”

Namun, krisis ini juga menunjukkan dilema besar bagi Tiongkok. Di satu sisi, negara ini membutuhkan angkatan bersenjata yang kuat dan profesional untuk menghadapi tantangan global.

Di sisi lain, Xi sangat khawatir bahwa kekuatan militer yang berkembang tanpa loyalitas politik yang mutlak bisa menjadi ancaman besar bagi stabilitas partai dan kekuasaannya.

Dalam konteks ini, Xi Jinping tidak hanya berfokus pada modernisasi militer sebagai upaya memperkuat posisi internasional Tiongkok.

Ia juga sedang berusaha menjaga agar militer tetap berada di bawah kontrol politik absolut, sebuah langkah yang memunculkan ketegangan antara profesionalisme dan loyalitas.

Xi tampaknya lebih percaya bahwa ancaman terbesar terhadap kekuasaannya datang bukan dari luar, tetapi dari dalam dari mereka yang seharusnya menjadi sekutunya

  • Bagikan