Di situlah letak paradoks keberuntungan. Kita sering berkata, “Kalau ada kesempatan, saya akan membuktikan kemampuan saya.” Namun kehidupan sering bekerja sebaliknya: kita harus menunjukkan kemampuan terlebih dahulu, agar kesempatan tahu kepada siapa ia harus datang.
Keberuntungan bukan hanya soal berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Keberuntungan juga tentang kesiapan mengenali sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Ada orang yang melewatkan peluang karena menunggu bentuk yang sempurna. Ada pula yang mengambil langkah kecil, lalu menemukan bahwa langkah itu ternyata mengarah ke pintu yang lebih besar.
Kita ingin pekerjaan baru, tetapi tidak memperluas kemampuan. Kita ingin bisnis berkembang, tetapi tidak berani menawarkan produk. Kita ingin dikenal, tetapi tidak pernah berani menunjukkan karya.
Kadang bukan karena pintu kesempatan tidak terbuka. Kita hanya terlalu lama berdiri di luar sambil menunggu seseorang membukakannya.
Pertanyaan terpenting bukan lagi, “Kapan keberuntungan datang kepada saya?”
Tetapi, “Jika kesempatan datang hari ini, apakah saya cukup siap untuk mengenalinya?”
Sebab kesempatan sering kali sudah mengetuk. Hanya saja, tidak semua orang sedang berada di dekat pintu.














