Penulis Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – Jabatan Bisa Berubah
Ada masa ketika melihat keberhasilan orang lain terasa seperti melihat jam dinding. Kita senang melihat mereka berhasil, tetapi diam-diam merasa waktu kita juga terus berjalan.
Teman seangkatan sudah menjadi direktur. Teman yang dulu belajar bersama kita sudah memimpin ratusan orang. Sementara kita masih berada di kursi yang sama.
Lalu muncul pertanyaan yang sulit dihindari. Kok saya masih di sini? Jangan-jangan saya terlambat.
Padahal, belum tentu kita terlambat. Bisa jadi kita sedang dipersiapkan.
Jauh sebelum menjadi CEO Nestlé, Paul Bulcke menjalani perjalanan karier yang jauh dari kemewahan seorang eksekutif. Ia pernah ditempatkan di Peru ketika kondisi politik dan ekonomi sedang sulit.
Bulcke tidak hanya membaca laporan dari kantor. Ia turun langsung ke pasar, mendatangi toko-toko kecil, bahkan ikut menjual produk dari van sejak pagi.
Di sana ia belajar bahwa hal sederhana bisa menentukan hasil. Datang sedikit terlambat saja bisa membuat uang pemilik toko berpindah kepada salesman perusahaan lain.
Pengalaman itu mungkin terlihat kecil dalam sebuah perjalanan karier. Namun, justru pengalaman seperti itulah yang membentuk cara seseorang menghadapi tanggung jawab besar.
Jean-François van Boxmeer juga melewati jalan yang tidak selalu nyaman. Penugasannya di Afrika membuatnya berhadapan dengan bisnis, ketidakstabilan politik, dan persoalan keselamatan manusia.
Satya Nadella menghadapi tantangan berbeda ketika memimpin Microsoft. Ia mendorong perubahan dari budaya know-it-all menjadi learn-it-all.
Bukan lagi merasa harus mengetahui semuanya, tetapi memiliki kerendahan hati untuk terus belajar.














