Dr. JWS Rizki Perluas Gerakan Pemberdayaan Lingkungan melalui Kolaborasi dengan FDIK UIN Syahada

  • Bagikan
Dr. Juni Wati Sri Rizki dan FDIK UIN Syahada

Berawal dari Gerakan Sederhana

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Juni turut memaparkan perjalanan Yayasan Muslimah Peduli Alam yang bermula dari kepedulian sederhana terhadap persoalan sampah.

Gerakan yang awalnya berfokus pada pengelolaan sampah itu secara bertahap berkembang menjadi wadah pemberdayaan masyarakat.

Yayasan yang Dr. JWS Rizki pimpin itu kini menjalankan berbagai kegiatan, seperti edukasi lingkungan, pelatihan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna, kegiatan sosial, serta program pengabdian kepada masyarakat.

Bagi Dr. JWS Rizki, persoalan sampah tidak dapat dipandang hanya sebagai urusan kebersihan melainkan isu tersebut berkaitan erat dengan pola hidup dan partisipasi masyarakat.

“Dari persoalan sampah, kami melihat adanya peluang untuk membangun kesadaran, kreativitas, dan kemandirian. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, bahkan memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan arah kepemimpinan Dr. JWS Rizki yang menempatkan isu lingkungan sebagai pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas.

Mempertemukan Kampus dan Masyarakat

Kerja sama dengan FDIK UIN Syahada membuka peluang pengembangan program yang relevan dengan bidang keilmuan di lingkungan fakultas tersebut, antara lain komunikasi dan penyiaran Islam, desain komunikasi visual, manajemen dakwah, serta psikologi.

Kolaborasi itu dapat diwujudkan melalui kegiatan penelitian, praktik lapangan mahasiswa, kampanye lingkungan, produksi media edukasi, pelatihan komunikasi, pendampingan komunitas, dan pengembangan manajemen organisasi sosial.

Dr. JWS Rizki berharap kehadiran mahasiswa dan dosen dapat memberikan perspektif baru dalam pengembangan program Yayasan Muslimah Peduli Alam.

Di sisi lain, yayasan dapat menjadi ruang pembelajaran langsung bagi sivitas akademika untuk memahami dinamika sosial di tengah masyarakat.

“Kampus memiliki kekuatan ilmu pengetahuan, sedangkan yayasan memiliki pengalaman lapangan dan kedekatan dengan masyarakat. Ketika kedua kekuatan ini disatukan, kami optimistis akan lahir program yang lebih relevan dan memberikan manfaat nyata,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan program dan setiap kegiatan yang dilaksanakan, menurutnya, harus memiliki tujuan, indikator keberhasilan, dan dampak yang dapat dievaluasi.

“Setiap program harus dirancang dengan baik, dilaksanakan secara konsisten, dan memberikan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat,” tegasnya.

  • Bagikan