Kepemimpinan Bukan Kostum yang Ketika Dibayar Terlihat Baik

  • Bagikan
kepemimpinan bukan kostum

Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – Kepemimpinan Bukan Kostum

Ada ironi dalam kehidupan banyak pemimpin. Di kantor, mereka mampu menjadi pendengar yang sabar, memberi apresiasi kepada tim, menjaga tutur kata kepada klien, dan menunjukkan empati dalam setiap interaksi. Namun ketika kembali ke rumah, kualitas yang sama sering kali justru menghilang.

Bawahan bisa mendapatkan waktu satu jam untuk didengarkan, sementara pasangan hanya mendapat beberapa menit sebelum kita berkata, “Nanti dulu, saya sedang lelah.” Pujian “kerja bagus” begitu mudah diberikan kepada rekan kerja, tetapi ucapan terima kasih kepada orang yang setiap hari merawat rumah dan keluarga sering terlupakan.

Masalahnya bukan karena seseorang tidak menghargai keluarganya. Sering kali kita hanya berasumsi bahwa orang terdekat pasti memahami. Kita merasa mereka akan mengerti kesibukan, tekanan pekerjaan, dan kelelahan yang dibawa pulang. Padahal, memahami tidak berarti tidak pernah terluka.

Kisah pemimpin seperti Gordon Tredgold menunjukkan sebuah paradoks penting. Bertahun-tahun ia mengajarkan tentang kepemimpinan: pentingnya mendengarkan, menghargai, dan membangun hubungan. Namun suatu hari istrinya mengingatkan bahwa teori kepemimpinan itu justru belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan rumah tangganya.

Ia berbicara tentang active listening, tetapi apakah ia benar-benar mendengarkan orang terdekatnya? Ia mengajarkan recognition, tetapi kapan terakhir kali ia mengapresiasi hal-hal kecil yang dilakukan istrinya?

Pertanyaan itu menjadi cermin bagi banyak orang. Sebab kepemimpinan bukan hanya tentang bagaimana kita bersikap ketika ada jabatan, target, bawahan, atau orang yang menilai. Kepemimpinan sejati terlihat ketika tidak ada tepuk tangan dan tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.

Stewart D. Friedman melalui konsep Total Leadership menjelaskan bahwa kehidupan seorang pemimpin tidak terbagi secara terpisah antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Seorang pemimpin yang baik harus mampu membawa nilai yang sama di berbagai ruang kehidupan: menjadi manusia yang utuh, bukan pribadi yang berbeda antara kantor dan rumah.

Sebab jika empati hanya muncul kepada klien, kesabaran hanya diberikan kepada atasan, dan penghargaan hanya diberikan kepada orang yang bekerja untuk kita, maka yang terlihat mungkin bukan karakter, melainkan sekadar kemampuan memainkan peran.

Kepemimpinan bukan kostum yang dikenakan saat bekerja lalu dilepas ketika pulang. Ia adalah karakter yang tetap melekat ketika tidak ada yang mengawasi.

Maka mungkin pertanyaan paling jujur bagi seorang pemimpin bukanlah, “Berapa banyak orang yang menghormati saya di luar sana?” Tetapi:

“Apakah orang-orang yang paling mengenal saya juga merasakan nilai-nilai yang selama ini saya ajarkan?”

Karena dunia mungkin mengenal prestasi kita, kolega mengenal kemampuan kita, dan bawahan mengenal jabatan kita. Tetapi keluarga mengenal siapa kita sebenarnya ketika semua peran profesional telah ditinggalkan.

  • Bagikan