Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – Jika Semua yang Membuat Kita Berarti Tiba-Tiba Hilang
Kita sering merasa mengenal diri sendiri melalui pekerjaan, jabatan, gelar, penghasilan, atau peran yang kita jalani. Selama semua itu masih ada, hidup terasa memiliki arah. Namun, apa yang terjadi ketika semuanya tiba-tiba hilang?
Pertanyaan itu pernah dihadapi Dr. Martin R. Mendelson.
Pada Juni 2003, Martin duduk di meja sarapan dengan tangan kanan masih terbalut perban. Ia mencoba membuka sebungkus Sweet’N Low, tetapi rasa sakit membuatnya gagal. Bungkus kecil itu akhirnya ia lempar ke lantai sambil menangis.
Masalahnya bukan sekadar sulit membuka pemanis. Martin sedang menghadapi kenyataan bahwa kariernya sebagai dokter gigi mungkin telah berakhir.
Sebelumnya, ia mengalami carpal tunnel syndrome di pergelangan tangan dan cubital tunnel syndrome di siku. Operasi dan terapi sudah dijalani. Namun, ketika kembali bekerja, rasa sakit kembali datang.
Saat itulah muncul pertanyaan yang lebih berat: “Kalau saya bukan lagi dokter gigi, lalu siapa saya?”
Profesi selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari identitasnya. Karena itu, kehilangan kemampuan bekerja terasa seperti kehilangan dirinya sendiri.
Di tengah keterpurukan tersebut, suaminya, Michael, mengatakan, “Kita akan baik-baik saja.”
Kalimat sederhana itu menjadi titik balik. Martin mulai mengganti pikirannya dari “Aku tidak akan pernah baik-baik saja” menjadi “Aku akan baik-baik saja.”
Tidak ada keajaiban setelah itu. Tangannya tidak langsung sembuh, kehidupannya juga tidak serta-merta menjadi mudah. Namun, Martin mulai bergerak.
Selama sekitar 17 bulan, ia menelepon orang, mengirim resume, mencari peluang, menghadapi penolakan, lalu mencoba lagi. Hingga akhirnya ia mendapat kesempatan menjadi Clinical Liaison di sebuah laboratorium gigi di Florida.
Dari sana hidupnya berubah. Martin kemudian berkembang menjadi pemimpin, pernah menjabat Vice President di Spear Education, hingga mendirikan Metamorphosis Coaching.
Pelajaran terpentingnya sederhana: hidup Martin berubah bukan ketika semuanya kembali seperti dulu, tetapi ketika ia berhenti menunggu masa lalunya kembali.
Kita pun sering terlalu lama bertanya, “Bagaimana caranya kembali seperti dulu?” Padahal, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, “Dari keadaan saya sekarang, saya masih bisa menjadi siapa?”
Pekerjaan bisa hilang. Jabatan bisa berakhir. Penghasilan dapat berubah. Bahkan kesehatan bisa berubah tanpa kita kehendaki.
Namun, berakhirnya satu peran tidak selalu berarti berakhirnya diri kita.
Pada akhirnya, mungkin hidup memang sesekali memaksa kita melepaskan semua label yang selama ini membuat kita merasa berarti.
Dan ketika itu terjadi, pertanyaan sesungguhnya muncul:
Jika gelar, jabatan, pekerjaan, dan semua yang kita banggakan tiba-tiba hilang, siapa diri kita yang masih tersisa?















