Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – Koran
Ada satu benda yang masih bertahan di tengah derasnya arus digital di Warung Kopi Cak Rochim, Pekauman, Gresik. Bukan benda modern dengan layar sentuh, melainkan lembaran kertas yang perlahan mulai langka: koran.
Setiap pagi, koran tergeletak di meja bersama kopi dan gorengan. Seseorang membukanya, membaca halaman depan, lalu komentar mulai bermunculan.
“Lho, iki opo karepe?”
Seketika koran berubah fungsi. Bukan hanya sumber berita, tetapi menjadi pemantik diskusi. Berita politik bisa mengundang banyak pendapat, berita ekonomi berujung pada obrolan harga kebutuhan, sementara sepak bola bisa melahirkan banyak “pelatih dadakan” dari satu meja.
Begitulah warung kopi bekerja. Koran bukan hanya dibaca, tetapi menjadi alasan orang saling berbicara.
Di tengah era ketika berita datang tanpa henti melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, X, hingga YouTube, manusia memang lebih cepat mengetahui banyak hal. Namun, sering kali kita hanya mengetahui sedikit tentang terlalu banyak hal.
Rolf Dobelli dalam buku Stop Reading the News mengingatkan bahwa banjir informasi tidak selalu membuat seseorang lebih memahami dunia. Terlalu banyak berita justru bisa mengganggu fokus, sementara pemahaman membutuhkan waktu dan perhatian.
Di situlah koran masih memiliki keunggulan sederhana: ia tidak berisik.














