Capek Tapi Bangga, Saat Sibuk Jadi Standar Sukses

  • Bagikan
budaya kerja berlebihan

LENSAKINI – Di dunia kerja modern, terlihat sibuk sering dianggap prestasi. Kalender penuh rapat, notifikasi email tak henti, dan jam pulang yang selalu larut seolah menjadi tanda ambisi dan dedikasi.

Semakin padat jadwal, semakin tinggi gengsi. Semakin sedikit tidur, semakin bangga.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan ini budaya. Di mana kerja keras tidak hanya diharapkan, tapi juga dipuji.

Bahkan, mereka yang punya waktu luang kerap dicurigai “kurang berjuang”. Kesibukan menjadi ukuran nilai diri.

Drama Korea Agency menyingkap sisi gelap budaya ini. Tokoh utamanya, Go Ah-in, perempuan yang menembus jajaran eksekutif di perusahaan periklanan, adalah simbol kesuksesan di mata publik.

Tapi di balik rapihnya setelan dan percaya dirinya, hidupnya penuh tekanan, jam kerja panjang, dan kecemasan konstan. Serial ini memotret bagaimana “harus selalu unggul” bisa menjadi beban yang tak terlihat dari luar.

Kisah nyata Demir Bentley, dalam Winning the Week, menegaskan hal yang sama. Sebagai analis muda di Wall Street, ia bekerja 80–100 jam seminggu.

Dari luar, hidupnya tampak ideal karier menanjak, sorotan media, dan pengakuan publik. Tapi tubuhnya mulai memberi sinyal bahaya gangguan autoimun serius hingga harus operasi. Dokter pun mengingatkan: stres dan pola kerja ekstrem bisa fatal.

Menariknya, ketakutannya bukan soal sakit. Demir takut kehilangan karier. Takut dianggap lemah. Takut tertinggal. Banyak orang hari ini mengalami hal yang sama.

  • Bagikan