Posisi geografis seringkali tidak dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan. Padahal, sejatinya mempunyai nilai ekonomi yang potensial.
Jika kita mau belajar, dengan posisi geografis Selat Melaka, walau Indonesia menguasai lautnya namun yang menikmati nilai ekonomis dan manfaatnya lebih banyak adalah Singapura.
Mengapa bisa terjadi, ini disebabkan oleh karena dunia tidak membayar posisi geografis, dunia membayar fungsi geografis. Nah, fungsi itu sendiri adalah produk jasa yang dapat dimonetisasi dengan rancangbangun yang tepat.
Narasi bahwa Padangsidimpuan mempunyai keunggulan posisi geografis dengan dikelilingi oleh 4 kabupaten sehingga disebut kota satelit di daerah Tabagsel seringkali kita dengar.
Namun, apa manfaatnya, apa pengaruhnya terhadap masyarakat. Kita gagal memanfaatkan posisi geografis ini, pemerintah daerah salah diagnosa dalam membuat kebijakan. Pasar tidak membayar narasi, pasar membayar produk.
Mestinya kita fokus dalam memonetisasi posisi geografis Kota Padangsidimpuan. Narasi posisi geografis, kota pendidikan (jasa), dagang tidak akan memberi manfaat dan tidak akan mempunyai nilai ekonomi selama kita tidak berupaya serius mendisain narasi ini menjadi sebuah produk.
Infrastruktur sebagai kota dagang dan pendidikan mestinya diperbaiki, posisi geografis dimanfaatkan dengan membangun industri logistik/pergudangan, kita harus mampu masuk dalam rantai pasokan barang, UMKM di dorong untuk terus tumbuh baik dari sisi regulasi, akses pendanaan, pasar dan ekosistemnya.
Tentu, banyak tantangan yang kita hadapi, terutama dari mindset dalam hal ini human capital dan permodalan. Namun, jika konsisten dengan disain kebijakan dan fokus akan keunggulan yang dimiliki, Padangsidimpuan dapat mewujudkan kesejateraan yang sama-sama kita dambakan.
PENULIS: Rusydi Nasution, Pimpinan DPRD














