Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – peluang di pasar kosong
Dalam bisnis, pasar yang sepi sering dianggap sebagai tanda bahaya. Tidak ada pembeli, tidak ada permintaan, lalu kesimpulannya sederhana tidak ada peluang.
Namun Akio Morita, pendiri Sony, melihatnya dengan cara berbeda. Baginya, tidak adanya pasar bukan selalu berarti tidak ada kebutuhan. Bisa jadi, konsumen hanya belum mengenal solusi yang sebenarnya mereka butuhkan.
Logika itu terlihat jelas ketika Sony mengembangkan Walkman. Saat itu, gagasan tentang pemutar kaset portabel tanpa fungsi merekam terdengar aneh. Bahkan para insinyur Sony sendiri mempertanyakannya. Mengapa orang mau membeli perangkat yang justru memiliki lebih sedikit fungsi?
Morita tidak melihat apa yang hilang dari produk itu. Ia melihat apa yang didapat konsumen: kebebasan menikmati musik di mana saja.
Sony kemudian tidak sekadar menjual perangkat elektronik. Mereka menciptakan kebiasaan baru. Musik yang sebelumnya dinikmati di rumah kini bisa menemani orang berjalan kaki, naik kereta, bersepeda, atau sekadar menikmati waktu sendiri.
Di sinilah pelajaran pentingnya. Konsumen tidak selalu mampu menjelaskan produk apa yang mereka inginkan, tetapi perilaku mereka sering menunjukkan masalah yang belum terselesaikan.
Itulah mengapa peluang besar kadang tidak muncul dari pasar yang ramai. Justru pasar yang terlihat kosong bisa menyimpan potensi paling besar asal kita mampu melihat kebutuhan yang belum memiliki nama.















