Bahaya terbesar seorang pemimpin bukan selalu karena ia tidak pintar atau sering membuat keputusan yang salah.
Bahaya yang lebih besar justru muncul ketika kepemimpinannya membuat orang lain berhenti berpikir.
Dalam banyak organisasi, bawahan terbiasa menunggu arahan.
Setiap masalah ditanyakan kepada atasan, setiap keputusan menunggu persetujuan, dan setiap langkah baru dilakukan setelah ada perintah. Sekilas, kondisi seperti ini terlihat tertib. Pemimpin merasa semua berada dalam kendalinya.
Namun jika berlangsung terlalu lama, kebiasaan itu bisa mematikan inisiatif. Orang-orang yang sebenarnya mampu berpikir akhirnya memilih diam.
Mereka takut salah, takut dikoreksi, atau merasa pendapatnya tidak akan digunakan. Akhirnya, mereka hanya menjalankan apa yang diperintahkan.
Masalahnya akan terlihat ketika pemimpin tidak berada di tempat. Keputusan menjadi lambat, pekerjaan tertunda, dan masalah kecil pun menunggu arahan.
Organisasi memiliki banyak orang, tetapi seolah hanya memiliki satu kepala untuk berpikir.
Pemimpin yang baik seharusnya tidak menciptakan ketergantungan seperti itu. Ia memberi ruang kepada tim untuk menyampaikan pendapat, mencoba mengambil keputusan, bahkan belajar dari kesalahan.
Ketika bawahan datang membawa masalah, pemimpin tidak selalu harus langsung memberikan jawaban. Sesekali cukup bertanya, “Menurutmu, apa yang sebaiknya kita lakukan?”















