LENSAKINI – Ada perbedaan besar antara tempat kerja yang hanya mempekerjakan manusia dan tempat kerja yang benar-benar menghargai manusia.
Sebuah perusahaan bisa memiliki gedung megah, teknologi canggih, dan target yang tercapai, tetapi tetap terasa kosong ketika orang-orang di dalamnya hanya menunggu waktu pulang.
Bob Chapman, pemimpin Barry-Wehmiller, pernah melihat kenyataan itu. Suatu hari ia menyaksikan para pekerja di kantin tertawa, berbincang, dan menikmati suasana seperti keluarga.
Namun ketika bel berbunyi, suasana berubah. Senyum hilang, percakapan berhenti, dan mereka kembali menjadi “pekerja” yang harus mengikuti aturan.
Chapman bertanya, mengapa seseorang bisa menjadi manusia seutuhnya sebelum bekerja, tetapi harus meninggalkan sebagian dirinya ketika memasuki tempat kerja?
Dari pertanyaan itu ia menyadari bahwa masalahnya bukan pada pekerja, melainkan pada cara perusahaan memperlakukan mereka.
Ketika karyawan diawasi berlebihan, diberi aturan yang menunjukkan ketidakpercayaan, dan diperlakukan seperti bagian dari mesin produksi, maka yang hilang bukan hanya kenyamanan, tetapi juga rasa memiliki.
Chapman kemudian mengubah pendekatan kepemimpinannya. Ia membangun budaya yang berlandaskan kepercayaan melalui konsep Truly Human Leadership.














