Pada Hari Valentine, ia datang membawa bunga, voucher sarapan, dan surat permintaan maaf tulisan tangan untuk klien tersebut. Bukan untuk menghapus kesalahan, tetapi untuk menunjukkan bahwa ia peduli dan bersedia menyelesaikan masalah yang telah terjadi.
Hasilnya bukan sekadar masalah yang selesai. Kepercayaan justru tumbuh.
Kisah itu mengingatkan kita bahwa karier tidak selalu dibangun oleh orang yang paling sempurna. Karier sering kali dibangun oleh mereka yang berani berdiri ketika sesuatu berjalan salah.
Orang yang bernilai bukan hanya bertanya, “Apa tugas saya?”
Ia juga bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan?”
Inilah yang sering disebut sebagai owner mentality: melihat masalah organisasi bukan sekadar sebagai urusan orang lain, tetapi sebagai sesuatu yang patut ikut diselesaikan.
Tentu, bertanggung jawab bukan berarti harus merasa bersalah atas semua hal. Bukan pula berarti selalu berkata “iya” dan mengambil pekerjaan tanpa batas.
Bertanggung jawab berarti berani mengatakan, “Ini bagian saya. Saya akan memperbaikinya.”
Sebab pada akhirnya, orang tidak akan selalu mengingat siapa yang pernah melakukan kesalahan. Mereka lebih mungkin mengingat siapa yang tetap hadir ketika kesalahan itu terjadi.
Dan bisa jadi, keberanian untuk mengakui kesalahan hari ini justru menjadi alasan mengapa seseorang dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar esok hari.














