LENSAKINI – Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat semakin sulit membedakan fakta dan opini. Berbagai informasi beredar cepat, tetapi tidak semuanya memiliki dasar data maupun proses verifikasi yang memadai.
Dalam kondisi tersebut, jurnalisme data hadir sebagai pendekatan jurnalistik yang memanfaatkan angka, statistik, riset, dan analisis untuk membantu publik memahami sebuah peristiwa secara lebih objektif.
Salah satu contoh menarik tentang kekuatan data dalam menjelaskan perilaku manusia adalah eksperimen sosial yang dilakukan jurnalis The Washington Post Gene Weingarten terhadap pemain biola dunia Joshua Bell.
Eksperimen tersebut berangkat dari pertanyaan sederhana: apakah karya seni luar biasa tetap akan dihargai ketika ditempatkan di lingkungan yang biasa?
Untuk menjawab pertanyaan itu, Weingarten meminta Joshua Bell menyamar sebagai pengamen jalanan (busker) dan memainkan musik klasik di Stasiun Metro L’Enfant Plaza, Washington, D.C., pada jam sibuk.
Bell bukan musisi biasa. Ia merupakan salah satu pemain biola terbaik dunia dan memainkan instrumen Stradivarius Gibson ex Huberman buatan 1713 yang bernilai jutaan dolar. Dalam konser resmi, penampilannya mampu menarik ribuan penonton dengan harga tiket ratusan dolar.
Namun, hasil eksperimen menunjukkan kenyataan berbeda.
Selama sekitar 43 menit bermain, sebanyak 1.097 orang melewati lokasi tersebut. Hanya tujuh orang yang berhenti mendengarkan selama lebih dari satu menit. Sebanyak 27 orang memberikan uang ke kotak biola dengan total sekitar 32 dolar Amerika Serikat.














