LENSAKINI – Pada 2010, dunia mengenal Yelena Baturina sebagai salah satu perempuan paling sukses dalam dunia bisnis. Majalah Forbes menempatkannya sebagai perempuan terkaya di Rusia sekaligus perempuan terkaya ketiga di dunia.
Perusahaan konstruksi miliknya, Inteko, tumbuh luar biasa. Dari luar, kisah tersebut tampak seperti cerita klasik tentang kerja keras, keberanian, dan kecerdasan seorang pengusaha yang berhasil membangun kerajaan bisnis.
Namun, seperti sebuah gedung megah, kekuatan sebuah bisnis tidak hanya terlihat dari bangunannya, tetapi juga dari fondasi yang menopangnya.
Di balik kejayaan Inteko, muncul pertanyaan besar: mengapa perusahaan tersebut begitu dominan dalam memenangkan proyek pembangunan besar di Moskow?
Jawabannya ternyata tidak hanya berada pada strategi bisnis atau kemampuan manajemen, tetapi juga pada kedekatannya dengan pusat kekuasaan.
Suami Baturina, Yuri Luzhkov, saat itu menjabat sebagai Wali Kota Moskow dengan pengaruh besar terhadap kebijakan pembangunan kota. Selama bertahun-tahun, berbagai proyek bernilai miliaran dolar mengalir kepada perusahaan milik Baturina.
Secara kasat mata, pasar tetap berjalan. Namun, persaingan bisnis perlahan kehilangan keseimbangannya. Keunggulan perusahaan tidak lagi hanya ditentukan oleh inovasi dan efisiensi, tetapi juga oleh akses terhadap kekuasaan.
Ketika Kekuasaan Pergi, Bisnis Mulai Goyah
Titik balik terjadi pada 2010 ketika Presiden Rusia memberhentikan Yuri Luzhkov karena kehilangan kepercayaan publik.
Tidak ada gedung Inteko yang runtuh. Tidak ada proyek yang berhenti secara tiba-tiba. Namun, sesuatu yang jauh lebih penting mulai hilang: perlindungan politik yang selama ini menjadi salah satu kekuatan perusahaan.
Dalam waktu sekitar satu tahun, kekayaan Baturina turun dari sekitar US$2,9 miliar menjadi US$1,2 miliar.
Yang hilang bukan kemampuan membangun gedung, melainkan akses istimewa terhadap proyek-proyek besar pemerintah.














