Penulis Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Ada anggapan yang diam-diam dipercaya banyak orang: kalau ingin sukses, kenallah sebanyak mungkin orang. Maka mulailah kita berburu koneksi seperti kolektor perangko zaman dulu bedanya, perangko diganti dengan kartu nama, akun LinkedIn, dan nomor WhatsApp.
Rasanya ada kepuasan tersendiri ketika daftar koneksi bertambah seratus orang dalam sehari, meskipun seminggu kemudian kita sudah lupa siapa mereka. Lucunya, semakin mudah menambah koneksi, semakin sulit menemukan seseorang yang benar-benar bersedia berkata, “Tenang, saya akan bantu.”
Di sinilah paradoks dunia profesional modern. Kita hidup pada masa ketika jaringan semakin luas, tetapi hubungan semakin tipis. LinkedIn memungkinkan kita terhubung dengan CEO perusahaan multinasional hanya dalam satu klik, media sosial membuat kita merasa dekat dengan tokoh-tokoh dunia, dan seminar bisnis selalu berakhir dengan ritual bertukar kartu nama yang kadang lebih cepat daripada mengingat nama lawan bicara.
Namun, ketika kesempatan besar datang pekerjaan impian, investor, promosi jabatan, atau kolaborasi penting—yang menentukan bukan berapa ribu orang mengenal kita. Yang menentukan adalah berapa orang yang cukup percaya untuk mempertaruhkan reputasinya atas nama kita.
Robert Putnam (2000) menyebut kondisi ini sebagai menurunnya kualitas modal sosial: hubungan semakin banyak, tetapi kedalaman kepercayaannya semakin dangkal.
Inilah pelajaran yang sering terlupakan. Kesempatan tidak berkeliling mencari orang paling pintar. Kesempatan mencari orang yang paling dipercaya. Dalam dunia profesional, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya sering kali melampaui uang itu sendiri.
Francis Fukuyama (1995) menjelaskan bahwa masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi memiliki biaya kerja sama yang lebih rendah, keputusan yang lebih cepat, dan peluang kolaborasi yang lebih besar.
Kepercayaan, dengan kata lain, bukan sekadar nilai moral. Ia adalah infrastruktur yang membuat peluang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
Gagasan tersebut terasa hidup ketika membaca kisah Judy Robinett. Ia berasal dari Franklin, Idaho, sebuah kota kecil di Amerika Serikat yang jauh dari gemerlap Silicon Valley maupun Wall Street. Jika Silicon Valley adalah panggung utama dunia teknologi, maka Franklin lebih mirip ruang tunggu yang jarang disebut dalam percakapan bisnis.














