Modal dari Anggota atau Bank? Ini Dampaknya bagi Koperasi

  • Bagikan
dampak utang bank bagi koperasi

LENSAKINI – Koperasi kerap dipahami sebagai usaha bersama yang dibangun atas semangat gotong royong. Anggota menabung, koperasi mengelola dana itu untuk usaha produktif, lalu hasilnya kembali kepada anggota dalam bentuk sisa hasil usaha, cadangan, dana sosial, maupun pengembangan usaha baru.

Namun, sebuah pertanyaan penting perlu diajukan yabagaimana bila koperasi tumbuh bukan terutama dari simpanan anggota, melainkan dari utang bank?

Sekilas, modal dari anggota dan pinjaman bank sama-sama dapat menggerakkan usaha. Keduanya bisa dipakai membeli bahan baku, membiayai perdagangan, atau memperluas unit usaha. Perbedaannya terletak pada arah manfaat ekonomi yang dihasilkan.

Ketika modal berasal dari anggota, keuntungan cenderung tetap berputar di dalam lingkungan koperasi. Tabungan anggota menjadi modal usaha, usaha menghasilkan surplus, lalu surplus itu kembali memperkuat anggota dan organisasi. Dalam pola ini, koperasi tidak hanya membangun aset, tetapi juga memperkuat kepercayaan serta ikatan ekonomi antaranggota.

Sebaliknya, ketika porsi utang bank terlalu besar, sebagian hasil usaha harus dialihkan keluar untuk membayar bunga. Koperasi memang tetap dapat tumbuh, tetapi pertumbuhan itu tidak sepenuhnya menjadi milik komunitas. Sebagian nilai tambah justru mengalir kepada kreditur.

Dalam esai bertajuk Ketika Utang Menggerus Gotong Royong, Agus Pakpahan menggambarkan persoalan tersebut melalui simulasi Koperasi Kuantum. Model itu menggunakan asumsi koperasi dengan 1.000 anggota, total tabungan Rp1 miliar, kebutuhan modal sektor riil Rp800 juta, margin usaha 20 persen, serta bunga pinjaman bank 18 persen.

Hasilnya menunjukkan kecenderungan yang cukup tegas. Saat koperasi membiayai seluruh kegiatan usaha dari modal anggota tanpa utang bank, pertumbuhan aset diproyeksikan mencapai 19 persen dalam satu periode. Ketika utang mulai masuk sebesar 25 persen, pertumbuhan turun menjadi 15,4 persen. Pada leverage 50 persen, pertumbuhan kembali menurun menjadi 11,8 persen.

Penurunan semakin terasa ketika koperasi mengandalkan utang dalam jumlah besar. Dalam simulasi dengan leverage 70 persen, pertumbuhan aset hanya mencapai 8,9 persen. Sementara pada kondisi pembiayaan sepenuhnya berasal dari utang, pertumbuhan tersisa 7,6 persen.

  • Bagikan