LENSAKINI – Kemudahan mengajukan pinjaman melalui telepon genggam membuat masyarakat semakin dekat dengan utang. Dalam hitungan menit, dana dapat dicairkan tanpa harus datang ke kantor, membawa banyak dokumen, atau menunggu proses panjang.
Namun, kemudahan itu juga menyimpan risiko. Banyak orang tergoda mengambil pinjaman bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena melihat tulisan “cicilan terendah”, “hemat jutaan rupiah”, “promo terbatas”, atau “dana cair hari ini”.
Padahal, angka promosi yang terlihat menarik belum tentu menggambarkan biaya sebenarnya.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menilai pinjaman hanya dari besarnya cicilan per bulan. Semakin panjang tenor, cicilan memang terlihat semakin kecil. Akan tetapi, total uang yang dibayarkan biasanya semakin besar.
Sebagai gambaran, seseorang menerima dana Rp13,5 juta dan memilih cicilan sekitar Rp1,29 juta selama 18 bulan. Sekilas, cicilan tersebut mungkin terlihat terjangkau. Namun, total pembayaran akhirnya mencapai lebih dari Rp23 juta.
Artinya, peminjam harus membayar selisih hampir Rp10 juta dari dana yang diterimanya.
Karena itu, sebelum mengambil pinjaman, jangan hanya bertanya, “Apakah saya mampu membayar cicilan bulanannya?” Tanyakan juga, “Berapa total uang yang harus saya kembalikan sampai lunas?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting karena menunjukkan biaya pinjaman yang sebenarnya.
Jangan Mudah Tergoda Angka Diskon
Kata “diskon” dan “hemat” dapat memengaruhi keputusan seseorang. Kita merasa sedang memperoleh keuntungan, padahal belum tentu demikian.
Sebuah penawaran dapat saja menampilkan tulisan “hemat hingga jutaan rupiah”, tetapi tidak menjelaskan secara langsung angka tersebut dibandingkan dengan apa. Bisa jadi diskon hanya berlaku pada komponen tertentu atau dihitung dari pilihan pinjaman lain yang lebih mahal.
Sebelum percaya pada angka promosi, periksa dana bersih yang diterima, bunga, biaya administrasi, asuransi, denda keterlambatan, serta total pembayaran.














