Artinya, utang memang tidak serta-merta membuat koperasi berhenti tumbuh. Namun, semakin besar ketergantungan terhadap pinjaman eksternal, semakin kecil pula manfaat integrasi yang dapat dipertahankan untuk anggota.
Pakpahan menyebut kondisi ini sebagai “peluruhan manfaat integrasi”. Koperasi mungkin tetap memiliki banyak unit usaha, kantor yang besar, atau struktur organisasi yang rapi. Akan tetapi, bila sebagian besar modalnya dibiayai bank, sebagian besar surplus juga berpotensi keluar dari ekosistem koperasi melalui pembayaran bunga.
Di sinilah perbedaan mendasar antara tabungan anggota dan kredit bank. Simpanan anggota bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Ia merupakan bukti kepercayaan dan bentuk nyata gotong royong ekonomi. Saat anggota menabung, mereka ikut menyediakan modal bagi usaha bersama. Saat koperasi tumbuh, mereka pula yang semestinya menerima manfaat paling besar.
Utang tetap dapat digunakan sebagai instrumen pendukung, terutama untuk kebutuhan investasi atau ekspansi yang terukur. Namun, utang sebaiknya tidak menggantikan peran utama modal anggota. Sebab, koperasi yang terlalu bergantung pada bank berisiko kehilangan salah satu fondasi terpentingnya: kemandirian.
Pesan utamanya sederhana. Koperasi tidak cukup hanya terintegrasi secara organisasi. Koperasi juga perlu kuat secara modal. Semakin besar kemampuan anggota menabung dan membiayai usaha bersama, semakin besar pula nilai ekonomi yang bisa tinggal, berputar, dan berkembang di dalam komunitas.
Dalam konteks itu, gotong royong tidak hanya berarti bekerja bersama. Gotong royong juga berarti menabung bersama, memiliki bersama, dan membangun masa depan ekonomi bersama.














