Ditulis oleh Nofinawati, MA (Dosen UIN Syahada Padangsidimpuan dan peneliti di bidang perbankan syariah)
LENSAKINI – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda mengelola keuangan. Bagi banyak mahasiswa, rekening bank kini lebih sering digunakan untuk menerima kiriman orang tua atau dana beasiswa. Setelah itu, transaksi sehari-hari dilakukan melalui dompet digital.
Membayar makanan, membeli pulsa, memesan transportasi daring, berbelanja di marketplace, hingga bertransaksi melalui QRIS dapat dilakukan dalam satu aplikasi.
Kemudahan inilah yang membuat dompet digital semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Perubahan tersebut menjadi tantangan serius bagi industri perbankan, termasuk bank syariah.
Persaingan tidak lagi hanya berlangsung antara bank syariah dan bank konvensional, tetapi juga dengan dompet digital yang lebih praktis, cepat, dan telah menjadi bagian dari kebiasaan generasi muda.
Fenomena ini terlihat dari survei sederhana yang saya lakukan terhadap 80 mahasiswa dari empat kelas dalam mata kuliah Perbankan Syariah.
Hasilnya, hanya 20 mahasiswa atau 25 persen yang telah memiliki rekening bank syariah. Sebanyak 60 mahasiswa lainnya, atau 75 persen, belum menjadi nasabah bank syariah.
Di sisi lain, mayoritas mahasiswa mengaku lebih sering menggunakan dompet digital DANA untuk kebutuhan transaksi sehari-hari.
Survei ini memang terbatas dan tidak dapat mewakili seluruh mahasiswa di Indonesia. Namun, temuan tersebut memberikan gambaran menarik mengenai perubahan perilaku finansial generasi muda, terutama mahasiswa yang justru mempelajari perbankan syariah.
Di sinilah muncul paradoks bahwa mahasiswa memahami prinsip-prinsip perbankan syariah, mengenal berbagai akad, dan mempelajari produk penghimpunan dana maupun pembiayaan.
Namun, pengetahuan tersebut belum sepenuhnya mendorong mereka untuk membuka rekening dan menggunakan layanan bank syariah.
Ketika ditelusuri lebih lanjut, alasannya cukup sederhana yakni mayoritas mahasiswa merasa kebutuhan transaksinya telah terpenuhi melalui dompet digital.
Satu aplikasi sudah dianggap cukup untuk melakukan berbagai pembayaran. Akibatnya, rekening bank syariah belum dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak.














