LENSAKINI – René Descartes dikenal sebagai bapak filsafat modern. Pemikirannya mengubah cara manusia memahami pengetahuan melalui ungkapan terkenal, Cogito, ergo sum atau “Aku berpikir, maka aku ada.”
Namun, di balik pemikiran besarnya, Descartes memiliki kebiasaan yang tidak lazim pada zamannya. Ia terbiasa bangun lebih siang dan menghabiskan waktu cukup lama di tempat tidur untuk berpikir serta merenung.
Bagi sebagian orang, kebiasaan itu mungkin dianggap sebagai kemalasan. Namun, bagi Descartes, waktu tersebut merupakan bagian penting dari proses intelektualnya. Dalam suasana tenang, ia mempertanyakan berbagai keyakinan, menyusun gagasan, dan mencari dasar pengetahuan yang dianggap benar.
Kebiasaan bangun siang telah dijalaninya sejak muda. Ketika belajar di Collège Royal Henry-Le-Grand di La Flèche, Prancis, Descartes memperoleh izin untuk memulai kegiatan lebih lambat karena kondisi kesehatannya. Rutinitas itu kemudian dipertahankan hingga dewasa karena dinilai membantunya menjaga kesehatan dan kejernihan berpikir.
Selama tinggal di Belanda, Descartes dapat menjalankan pola hidup tersebut dengan nyaman. Ia memiliki cukup waktu untuk menulis dan mengembangkan pemikirannya tanpa banyak gangguan.
Namun, ritme hidupnya berubah pada 1649 ketika menerima undangan Ratu Christina dari Swedia. Descartes diminta mengajarkan filsafat kepada sang ratu pada pukul lima pagi.
Ia harus meninggalkan tempat tinggalnya dalam udara musim dingin Stockholm yang sangat dingin. Beberapa waktu kemudian, kondisi kesehatannya memburuk. Descartes meninggal pada Februari 1650 dalam usia 53 tahun. Penyebab kematiannya secara umum disebut pneumonia, meskipun terdapat beberapa pendapat lain dalam catatan sejarah.














