Tak Harus Sama untuk Bisa Bersama, Merawat Toleransi di Tengah Keberagaman

  • Bagikan
Belajar Toleransi dari Satu Kamar dan Kampung di Tapanuli Selatan

Ditulis oleh Nofinawati, S.E.I., M.A. seorang pengamat ekonomi Islam dan dosen Perbankan Syariah

LENSAKINI – Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas keberagaman. Perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Keberagaman merupakan kekayaan yang patut disyukuri, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kedewasaan dalam menyikapinya agar tidak menjadi sumber konflik.

Dalam konteks inilah moderasi beragama menjadi penting sebagai upaya membangun kehidupan yang damai, harmonis, dan saling menghormati di tengah perbedaan.

Moderasi beragama bukan hanya sebuah konsep yang dipelajari, tetapi merupakan nilai yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk nyata moderasi beragama adalah toleransi, yaitu kemampuan menghargai perbedaan keyakinan dan memberikan ruang kepada orang lain untuk menjalankan agamanya tanpa kehilangan keyakinan yang kita anut sendiri.

Menjadi pribadi yang toleran bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama sendiri. Seseorang dapat tetap teguh menjalankan ajaran agamanya sekaligus menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.

Toleransi berarti mampu menempatkan perbedaan secara proporsional. Dalam persoalan akidah dan ibadah, setiap orang memiliki keyakinan dan tata cara masing-masing.

Sementara dalam kehidupan sosial, kita dapat membangun hubungan yang baik, saling membantu, dan bekerja sama dalam berbagai persoalan kemanusiaan.

Pengalaman Bersama Teman yang Berbeda Agama

Pemahaman mengenai toleransi semakin saya rasakan ketika mengikuti masa Prajabatan. Pada saat itu, saya memperoleh pengalaman tinggal dalam satu kamar dengan seorang teman yang berbeda agama. Teman saya tersebut merupakan calon dosen di Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAKEN) Tarutung.

Pengalaman tersebut sangat berharga karena kami tidak hanya bertemu dalam kegiatan formal, tetapi juga hidup bersama dalam satu kamar selama masa Prajabatan.

Kami memiliki keyakinan, kebiasaan, dan cara beribadah yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.

  • Bagikan